Oleh : Adiman, SH, MH
PEMPROV Sulawesi Tengah (Sulteng) saa ini tengah menjadi sorotan nasional dengan fenomena “banjir doktor”, yaitu meningkatnya jumlah ASN dilingkup Pemerintah Provinsi Negeri Seribu Megalit itu yang berpendidikan Doktor (S3), sebagai implementasi dari visi besar Sulteng Cerdas.
Kebijakan ini bukan sekadar slogan, melainkan upaya nyata Pemerintah Provinsi untuk mewujudkan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar setara dengan provinsi maju lainnya.
Fenomena banjir Doktor di Sulteng berakar dari kesadaran jajaran pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur H. Rudsy Mastura yang dilanjutkan H. Anwar Hafid, yang meyakini bahwa investasi terbesar dan strategis adalah pada sektor pendidikan.
Melalui berbagai inisiatif, seperti pembebasan biaya pendidikan hingga tingkat SMA, SMK, dan SLB serta penguatan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, Sulteng menyiapkan ekosistem yang mendukung generasi muda mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
“Setiap keluarga di Sulteng harus memiliki minimal satu sarjana,” adalah target yang ditetapkan Gubernur Anwar Hafid.
Dengan dorongan beasiswa daerah seperti Berani Cerdas serta inovasi pendidikan berbasis inklusi, peluang anak-anak lokal menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga ke jenjang doktoral, semakin terbuka lebar.
Naiknya angka doktor di Pemprov Sulteng juga hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan (seperti Untad dan Unisa), serta kelembagaan profesi.
Pemerintah aktif menggandeng kampus besar dan memberikan dukungan biaya riset. Program Berani Cerdas turut mengalokasikan anggaran hingga ratusan miliar rupiah guna memastikan akses pendidikan lanjutan tak tertutup oleh kendala ekonomi.
Fenomena ini berdampak langsung pada peningkatan kapasitas birokrat, tenaga pendidik, maupun peneliti di daerah. Banyak ASN, dosen, serta guru kini merupakan lulusan S3 atau tengah menempuh pendidikan doktoral.
Mereka diharapkan dapat membawa perubahan drastis pada mutu layanan publik dan pengambilan kebijakan berbasis riset.
Banjir doktor juga menjadi modal sosial dalam membangun ekonomi daerah. Tenaga profesional yang bertambah membawa serta inovasi, jejaring nasional bahkan internasional, serta mempertinggi daya tawar Sulteng dalam kompetisi pembangunan.
Wajah Sulteng kini makin terwakili pada forum akademik nasional dan internasional.
Implementasi Sulteng Cerdas terasa nyata di lapangan, tidak hanya pada angka statistik.
Kesempatan anak petani maupun buruh menapaki strata pendidikan tinggi kini merata. Dunia usaha pun kian terbuka memanfaatkan hasil riset dan tenaga terdidik daerah.
Pemerintah tak sekadar berhenti di program beasiswa. Kolaborasi dengan sektor swasta, industri, serta jejaring alumni difasilitasi guna menempatkan lulusan S3 pada bidang-bidang strategis—dari pelayanan publik, penanggulangan bencana, hingga penguatan UMKM dan kesehatan.
Dampak positifnya, Sulteng menjadi magnet bagi talenta akademik nasional yang ingin berkontribusi di daerah.
Ke depan, Pemprov Sulteng optimis gelombang “banjir doktor” akan kian deras. Wujud nyata visi Sulteng Cerdas akan mendorong lompatan kualitas pembangunan manusia, menekan ketimpangan pendidikan, dan menyiapkan generasi emas 2045.
Semua ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah jantung pembangunan masa depan Sulteng yang berdaya saing tinggi. *












