ADVERTISEMENT
Banggai

Program 1 Juta Satu Pekarangan Bikin Kemiskinan Ekstrem di Banggai Jadi Zero

3097
×

Program 1 Juta Satu Pekarangan Bikin Kemiskinan Ekstrem di Banggai Jadi Zero

Sebarkan artikel ini
Penulis: Sofyan Labolo
Bupati Banggai Amirudin dan wakilnya Furqanuddin pada momentum pelepasan pawai takbiran obor menyambut Idul Adha 1445 H, di pelataran Masjid Agung Annur Luwuk. (Foto: DKISP Banggai)

BANGGAI, Luwuk Times — Meski belum satu periode menahkodai Kabupaten Banggai, namun Amirudin sukses menjadikan kemiskinan ekstrem di daerah yang ia pimpin menjadi zero.

Program unggulan 1 juta satu pekarangan yang diemban duet Amirudin-Furqanuddin, setidaknya mampu merealisasikannya.

Menariknya, pemerintah pusat baru akan menargetkan kemiskinan ekstrem menjadi zero di tahun 2024. Akan tetapi Amirudin sudah lebih dulu mewujudkannya.

Begitu pula dengan pemerintah provinsi (Pemprov) Sulteng juga di tahun ini menargetkan kemiskinan ekstrem menjadi zero.

Hal itu terungkap pada wawancara live di Studio Jiwaku antara Irwanto Kulap dengan Bupati Banggai H. Amirudin, Sabtu 15 Juni 2024.

“Tentang kemiskinan ekstrem, pemerintah pusat itu 2024 harus zero. Tapi Amirudin sejak 2023 sudah zero. Bukan main bapak lebih cepat dari pemerintah pusat. Bahkan Pemprov nanti tahun ini berupaya meng zero kan kemiskinan ekstrem,” kata Irwanto Kulap.

Sebagai narasumber tunggal, Amirudin memberi penjelasan tentang kemiskinan ekstrem.

“Soal kemiskinan ekstrem itu, jika ada orang yang punya pendapatan 10 ribu per hari atau sebulan 300 ribu. Itu adalah kemiskinan ekstrem,” kata Bupati Amirudin.

Baca:  Penemuan Mayat Pria 57 Tahun di Luwuk

Ia meyakini, Kabupaten Banggai mampu merealisasikan kemiskinan ekstrem menjadi zero, karena adanya program 1 juta satu pekarangan.

“Kemarin kita dapat info dari Kementerian. Saya tanya teman-teman apa penyebabnya? Sehingga saya berkesimpulan karena ada program 1 juta satu pekarangan. Saya yakin itu,” tambah Amirudin.

“Karena warga miskin itu yang mendapatkan program tersebut. mereka kemudian mendapatkan 1,2 juta. Itu penyebab sehingga kemiskinan ekstrem kita hilang atau 0,0 persen. Itu belum murni. Kemungkinan masih ada,” tambah Amirudin.

Ia menjelaskan soal kategori miskin. Ada tiga tingkatannya. Yakni data miskin ekstrem, hampir miskin dan miskin.

Menurut Bupati, miskin itu bersifat flukuatif. Karena ada orang yang punya kemampuan, tapi menerima bantuan. Maka secara otomatis yang bersangkutan masuk kategori miskin.

Apalagi saat ini jenis bantuan banyak. Sehingga saran Bupati perlu melakukan revisi terhadap data.

Baca:  Dua Proyek Jalan Sebesar Rp 19,7 Miliar Ditender

“Cuma masalah kita sekarang lebih banyak orang mengatakan miskin dari pada tidak dapat bantuan. Salah nya disitu. Makanya saya bilang data ini harus diperbaiki,” jelasnya.

Pada setiap kesempatan lanjut Bupati Amirudin, sering mengingatkan kepada para kepala desa, agar berhati-hati dalam memberikan bantuan. Jika salah, maka akan memberi pengaruh terhadap grafik kemiskinan.

Dari Kementerian Sosial tambah Amirudin telah memberikan pelatihan. Selain Kades juga para operator yang ada di desa. Bahkan instruksi dari Kementerian Sosial cukup tegas, yakni Kades bisa mengganti data sebulan 2 kali.

Soal pelatihan yang melibatkan operator desa dan Kades, Amirudin mengaku belum maksimal.

Pasalnya, dari 336 desa se Kabupaten Banggai, baru sekitar 100 lebih yang mengikuti pelatihan.

Meski begitu, Amirudin berniat untuk lebih memaksimalkan pelatihan itu, dengan melibatkan seluruh desa. *

Baca: Penjelasan Bupati Amirudin Tentang Dampak Positif Participating Interest Buat Kabupaten Banggai