Advertising

Sembilan Tahun Dibayangi Cemoohan: Jalan Panjang 20 KK Warga Tanjung Bunga Luwuk Utara Menjemput Asa dan Kepastian Tanah

Sofyan
Warga Tanjung Bunga Kecamatan Luwuk Utara. (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)
A-AA+A++

LUWUK TIMES, Luwuk Utara — Terik matahari di atas langit Luwuk Utara siang itu, Kamis (20/8/2026), terasa begitu membakar kulit. Perjalanan berat menuju kompleks Perumahan Tanjung Bunga, Kecamatan Luwuk Utara, Kabupaten Banggai, sempat membayangi benak kami. Mengingat sejarahnya, kami membayangkan medan sulit yang harus ditempuh roda empat yang kami tumpangi.

Namun, perkiraan itu meleset. Ban mobil justru menggelinding mulus di atas hamparan aspal tipis yang melintasi sebagian jalan desa.

Meski masih ada beberapa ruas jalan berlubang dan berdebu yang menyapa, akses menuju pemukiman ini jauh dari kesan terisolasi.

Di sinilah, di hamparan lahan seluas tiga hektar ini, bertaut kisah 20 Kepala Keluarga (sekitar 50 hingga 60 jiwa) warga eks Tanjungsari.

Baca Juga:  Kecerobohan Buka Pintu Mobil Sembarangan Makan Korban, Pengendara di Batui Kritis

Mereka adalah penyintas eksekusi lahan pahit pada tahun 2017 silam. Ketika asa mereka hampir padam, keluarga Berkah Albakar, pemilik lahan tempat mereka kini berpijak mengulurkan tangan.

Setiap keluarga diberi ruang untuk merajut kembali kehidupan di atas tanah berukuran 7×12 meter.

“Awalnya kami di sini ada 68 Kepala Keluarga. Tapi seiring berjalannya waktu, kini tersisa 20 KK,” tutur seorang warga sembari menatap deretan rumah mereka dengan tatapan nanar.

Jaraknya memang sekitar 500 meter dari poros jalan utama. Namun, derita masa lalu perlahan terobati. Fasilitas dasar yang dulu hanya mimpi, kini sudah dapat dirasakan sehari-hari.

Baca Juga:  Empat Remaja Tenggelam di Perairan Masama Banggai

“Air dan listrik sudah ada,” sahut warga serentak dengan nada kompak penuh rasa syukur.

Bertahan dari Badai Cemoohan

Perjalanan menuju ketenangan hari ini tidak ditempuh dengan mudah. Merelakan tempat tinggal lama dan berpindah ke tanah relokasi ahli waris sempat membuat mereka menjadi sasaran cemoohan dari rekan sejawat yang bertahan di Tanjungsari kala itu.

Cemoohan dan bisikan miring datang bertubi-tubi.

“Dulu kami dibully. Kami dibilang akan mati kelaparan di sini, bakal digigit ular, sampai disebut bakal baku teman dengan setan,” bisik seorang warga mengenang masa-masa kelam itu.

Baca Juga:  Aroma Menyengat Truk Kondensat Bikin Mual, Kadis Lingkungan Hidup Banggai Siapkan Sidak

Namun, waktu adalah penyembuh terbaik. Sembilan tahun berlalu, bayangan ketakutan itu menguap digantikan kehangatan kekeluargaan.

“Alhamdulillah, setelah sembilan tahun, semua berubah. Kami merasa sangat nyaman tinggal di sini,” ungkap Mama Aco, salah seorang warga, dengan senyum mengembang di wajahnya.

Geliat kehidupan warga Tanjung Bunga kini bertumpu pada denyut nadi Kota Luwuk. Saban pagi hingga siang, mereka melangkahkan kaki menuju pasar dan pelabuhan kota untuk mengais rezeki.

“Kalau siang kami beraktivitas mencari nafkah di kota. Nanti malam baru kami berkumpul kembali bersama keluarga di sini,” tambah warga lainnya.

Example 120x600