Rekonstruksi Awal Komunitas Adat dan Perkembangan Kedatuan di Kawasan Timur Sulawesi
Oleh: Husain Katili, ST
Kawasan timur Pulau Sulawesi, khususnya wilayah Banggai dan Pulau Peleng, menyimpan berbagai tradisi lisan dan jejak sejarah lokal yang menunjukkan keberadaan komunitas-komunitas tua sebelum berkembangnya kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi.
Salah satu nama yang paling menonjol dalam memori kolektif masyarakat kawasan tersebut adalah Tompotika.
Nama ini tidak hanya dikenal sebagai gunung di ujung timur Sulawesi, tetapi juga dipahami sebagai identitas suatu komunitas adat dan kedatuan lama yang pernah berkembang di kawasan Banggai–Peling.
Dalam tradisi lisan masyarakat Banggai disebutkan bahwa Tompotika merupakan suatu komunitas tua yang wilayah pengaruhnya membentang dari sekitar Teluk Tomini, Selat Peling, hingga Teluk Tolo bagian tenggara.
Kawasan tersebut berbatasan dengan wilayah Kedatuan Luwu di bagian selatan serta komunitas Mori, Bare’e, dan Pamona di sebelah barat Pegunungan Verbeek.
Dalam konteks politik tradisional, Tompotika dipahami sebagai sebuah kedatuan, yakni persekutuan masyarakat adat yang dipimpin oleh seorang datu dan disatukan oleh hubungan genealogis, adat, serta jaringan perdagangan maritim.
Komunitas utama yang dianggap menjadi inti masyarakat Tompotika adalah Lobo, Loinang, dan Lo’on.
Ketiga kelompok ini dipandang sebagai unsur utama pembentuk identitas masyarakat Tompotika sebelum datangnya pengaruh luar dari Bugis, Makassar, Gorontalo, maupun Jawa pada masa-masa berikutnya.
Dalam beberapa penafsiran lokal, istilah Tumputika atau Tompotika bahkan dianggap sebagai simbol persatuan ketiga komunitas tersebut dalam satu kesatuan adat dan budaya.
Keberadaan komunitas-komunitas tua di Banggai–Peling juga diperkuat oleh temuan arkeologi di kawasan Lipu Babasal, Peling Barat, yang menunjukkan adanya aktivitas produksi tembikar sejak sekitar abad ke-3 Masehi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan ini telah menjadi pusat permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat maritim sejak awal perkembangan sejarah Nusantara.
Dalam tradisi lisan masyarakat Peling Barat, khususnya klan Montomisan (Kombolon), disebutkan bahwa leluhur mereka terdiri atas dua belas bersaudara.
Yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Banggai, Ternate, kawasan Bugis, hingga Pulau Jawa.
Tompotika disebut sebagai salah satu bagian dari jaringan kekerabatan tersebut.
Walaupun komunitas Loinang diperkirakan telah eksis dan mendiami kawasan timur Tompotika sejak sekitar awal abad ke-7 Masehi, masyarakat Lobo dipandang sebagai salah satu komunitas tertua yang telah berkembang di kawasan Banggai–Peling sejak awal Masehi.
Hal ini menunjukkan bahwa sebelum munculnya identitas politik Tompotika, kawasan tersebut telah dihuni oleh komunitas-komunitas adat yang memiliki hubungan genealogis dan budaya yang kuat.
Selain memiliki dimensi historis dan politik, Tompotika juga mengandung makna kosmologis dan religius dalam masyarakat lokal.
Sebagian masyarakat menafsirkan Tompotika sebagai “tempat terbitnya matahari,” sesuai letaknya di bagian timur Sulawesi.
Dalam tradisi komunitas Tompotika di Banggai daratan, kata Tompo dikaitkan dengan Tumpu dalam bahasa Saluan yang dimaknai sebagai Tuhan atau Allah SWT, sedangkan Tika diartikan sebagai “mengangkat derajat kita.”
Penafsiran ini menunjukkan adanya proses islamisasi terhadap makna lokal yang berkembang dalam masyarakat adat Tompotika di Banggai daratan.
Dalam catatan tradisi lisan disebutkan bahwa “Addi Luwuk” kedua bertempat di Tompotika dan dianggap sebagai nenek dari Sawerigading.
Kisah tersebut termuat dalam epos La Galigo yang menceritakan bahwa ketika Sawerigading hendak berlayar menuju negeri Cina, ia terlebih dahulu singgah di Tompotika untuk meminta restu kepada neneknya yang berkedudukan sebagai Datu Luwuk di kawasan tersebut.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Wedeng atau kawasan Gorontalo, kemudian ke Maluku khususnya Ternate, dan akhirnya menuju negeri Cina.
Adapun tempat persinggahan yang disebutkan dalam kisah La Galigo tersebut menunjukkan bahwa letak geografis Tompotika kemungkinan berada di kawasan pesisir yang berdekatan langsung dengan pegunungan.
Gambaran itu sesuai dengan kondisi geografis Banggai daratan yang memiliki bentang alam berupa garis pantai panjang dengan pegunungan yang dekat dengan laut.
Deskripsi tersebut memperlihatkan bahwa Tompotika kemungkinan merupakan pelabuhan atau kawasan persinggahan maritim penting pada masanya.













