Tompotika dan Dinamika Masyarakat Adat Lobo, Loinang, dan Lo’on di Timur Sulawesi

oleh
oleh

Jika dikaitkan dengan kondisi geografis saat ini, maka kawasan yang dimaksud kemungkinan berada di sekitar wilayah Luwuk modern yang terletak di pesisir dan berhadapan langsung dengan kawasan Pegunungan Tompotika.

Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa pusat Tompotika pada masa lampau justru berada lebih ke timur. Seperti kawasan Masama atau sekitar wilayah Bualemo sekarang yang juga memiliki karakter geografis berupa pesisir pantai yang berdekatan dengan pegunungan.

Oleh karena itu, penentuan lokasi historis Tompotika masih memerlukan kajian lebih mendalam melalui pendekatan sejarah lokal, geografi historis, arkeologi, dan filologi La Galigo.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Tompotika telah dikenal sebagai salah satu pusat penting dalam jaringan pelayaran Nusantara timur.

Dalam konteks itu, Tompotika bukan hanya dipahami sebagai wilayah geografis. Tetapi juga sebagai pusat kekuasaan adat dan persinggahan maritim yang memiliki hubungan dengan dunia Bugis kuno. Hal itu sebagaimana tergambar dalam tradisi La Galigo.

Penggunaan gelar “Addi” oleh para pemimpin Tompotika juga dianggap memiliki hubungan dengan pengaruh budaya dan politik dari Lipu Adino di Peling Barat yang dalam tradisi lokal dipandang sebagai episentrum keilmuan pada masa lampau.

Dalam dialek Bugis kuno maupun tradisi lokal setempat, gelar Adi atau Addi dimaknai sebagai “yang utama.”

Pengaruh penggunaan gelar tersebut tampak di berbagai wilayah Banggai–Peling. Seperti Addi Bongganan di Peling Timur maupun para pemimpin lipu di Pulau Banggai yang juga menggunakan gelar serupa.

Menurut sebagian ahli sejarah dan penafsir tradisi La Galigo, Sawerigading diperkirakan hidup sekitar abad ke-9 Masehi.

Jika hubungan antara Sawerigading dan Tompotika memiliki dasar historis tertentu. Maka hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa komunitas atau Kedatuan Tompotika telah eksis setidaknya sejak akhir abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi.

Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa kawasan Banggai–Peling telah terhubung dengan jaringan budaya dan pelayaran Nusantara jauh sebelum masa kolonial.

Kita memang kehilangan banyak informasi mengenai sejarah awal Tompotika akibat keterbatasan sumber tertulis.

Namun berdasarkan tradisi lisan, jejak arkeologi, serta penyebutan Tompotika dalam La Galigo, dapat diperkirakan bahwa kedatuan ini berkembang selama kurang lebih seribu tahun.

Dan sebelum akhirnya berakhir pada sekitar akhir abad ke-16 Masehi ketika wilayahnya diakuisisi ke dalam kekuasaan Kerajaan Banggai.

Cerita mengenai akhir Tompotika dalam tradisi lokal umumnya tidak menggambarkan kehancuran mendadak akibat peperangan besar, melainkan proses integrasi politik secara bertahap ke dalam struktur Banggai.

Dalam beberapa versi tradisi lisan disebutkan bahwa keturunan atau anak-anak penguasa Tompotika meminta perlindungan kepada Kerajaan Banggai pada masa tersebut.

Peristiwa itu dipandang sebagai simbol berakhirnya kedaulatan Tompotika sebagai kedatuan mandiri dan awal bergabungnya kawasan Tompotika ke dalam orbit politik Banggai.

Pada generasi kedua setelah berakhirnya kekuasaan Tompotika, salah satu keturunan atau keponakan dari pemimpin terakhir Tompotika yang dikenal dengan nama Lalogani disebut kemudian diangkat oleh penguasa Kerajaan Banggai sebagai pemimpin di kawasan Peling Barat dengan gelar Lipuadino.

Dalam tradisi lokal, tokoh tersebut juga dipersuntingkan dengan salah satu putri Puadino dan kemudian memegang otoritas atas wilayah dua belas kebasaloan Lipuadino yang merupakan salah satu federasi penting dalam struktur Kerajaan Banggai.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa proses integrasi Tompotika ke dalam Banggai tidak menghapus sepenuhnya garis keturunan dan elite politik lama Tompotika.

Sebaliknya, sebagian elite Tompotika justru diakomodasi ke dalam struktur pemerintahan Banggai melalui hubungan genealogis, perkawinan politik, dan pemberian kekuasaan wilayah.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan politik dan budaya antara Tompotika dengan federasi-federasi adat dalam Kerajaan Banggai.

Walaupun kekuasaan politiknya berakhir, identitas Tompotika tetap hidup dalam memori budaya masyarakat Banggai daratan.

Nama Tompotika terus bertahan melalui cerita rakyat, struktur adat, kawasan pegunungan, dan identitas genealogis masyarakat yang menghubungkan asal-usul mereka dengan kedatuan tua tersebut.

Dengan demikian, Tompotika bukan hanya dipahami sebagai kerajaan yang hilang, melainkan sebagai simbol peradaban tua dan persatuan masyarakat adat di kawasan timur Sulawesi.

Berdasarkan berbagai tradisi lisan, temuan arkeologi, dan jejak historis tersebut, Tompotika dapat dipahami bukan hanya sebagai nama geografis, melainkan sebagai simbol identitas kolektif masyarakat adat di kawasan timur Sulawesi.

Kajian mengenai Tompotika menjadi penting untuk merekonstruksi sejarah lokal Banggai–Peling sekaligus memahami dinamika hubungan antara komunitas adat, migrasi maritim, dan perkembangan kedatuan-kedatuan tua di kawasan Nusantara timur. *

Penulis adalah Pemerhati sejarah dan budaya Banggai