LUWUK TIMES – Dari sebuah desa sederhana bernama Karya Makmur, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, lahir sebuah kisah tentang mimpi, ketekunan, dan keyakinan yang tak pernah padam.
Adalah I Wayan Supadiyasa, putra desa yang kini resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Sosial dari Universitas Tadulako Palu.
Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan keluarga dan kampung halaman, tetapi juga menjadi lentera harapan bagi banyak anak desa yang tengah merajut mimpi mereka.
Perjalanan Supadiyasa tidak dibangun dalam semalam. Ia menapaki pendidikan dari ruang-ruang kelas sederhana di SDN 2 Karya Makmur, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 2 Toili dan SMA Negeri 1 Toili.
Di bangku-bangku sekolah itulah, cita-cita mulai tumbuh, ditempa oleh keterbatasan, namun dipupuk oleh semangat yang tak pernah surut.
Selepas menamatkan pendidikan menengah di kampung halamannya, ia memilih melangkah lebih jauh.
Gelar Sarjana Pemerintahan diraihnya di Universitas Tompotika Luwuk.
Rasa haus akan ilmu membawanya kembali menempuh Sarjana Hukum di Universitas Muhammadiyah Luwuk.
Tak berhenti di sana, Supadiyasa melanjutkan studi Magister hingga akhirnya mencapai puncak akademik dengan gelar Doktor Ilmu Sosial di Universitas Tadulako Palu.
Namun, Wayan Supadiyasa bukan hanya tentang ruang kuliah dan gelar akademik.
Ia juga dikenal sebagai politisi muda Banggai yang tumbuh bersama masyarakatnya.
Dua periode mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Banggai menjadi bukti kepercayaan rakyat dan komitmennya untuk memperjuangkan kepentingan daerah.
Di luar dunia politik, Wayan mengabdikan diri sebagai advokat PERADI, memperjuangkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan.
Ia juga berdiri di depan kelas sebagai dosen Universitas Tompotika Luwuk, menanamkan nilai dan pengetahuan kepada generasi muda sebuah bentuk pengabdian yang lahir dari kesadaran bahwa pendidikan adalah jembatan masa depan.
Kini, ia mengemban tanggung jawab baru sebagai Ketua Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Provinsi Sulawesi Tengah.
Peran strategis yang menuntut keteguhan sikap, kejernihan gagasan, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.
Dalam setiap langkah hidupnya, Supadiyasa selalu berpegang pada satu keyakinan sederhana namun kuat:
“Jangan pernah hentikan langkahmu selama keyakinanmu masih kuat akan tercapainya cita-citamu.”
Bagi Supadiyasa, gelar Doktor bukanlah garis akhir. Ia justru memaknainya sebagai titik awal—awal untuk memberi lebih banyak, berbuat lebih luas, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Banggai, Sulawesi Tengah, dan Indonesia.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa dari desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota pun, mimpi besar bisa lahir. Selama ada keberanian untuk melangkah dan kesetiaan pada usaha, mimpi tak akan pernah mengkhianati siapa pun. *


