Oleh: Supriadi Lawani
BEBERAPA Minggu lalu, saat menerima rapor anak saya, wali kelasnya menyampaikan satu kalimat yang terdengar sederhana tapi berat: “Secara umum, anak-anak sekarang agak kurang literasi dan penalaran.”
Kalimat itu tidak disampaikan dengan nada menyalahkan. Lebih mirip ungkapan seorang guru yang tahu ada sesuatu yang keliru, tapi tak semudah itu mengatasi nya.
Sampai hari ini saya selalu ingat penyampaian ibu wali kelas anak saya dan saya langsung teringat pada sebuah bab sunyi dalam novel legendaris “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela”. Bab tentang berpulangnya Yasuaki-chan.
Di Sekolah mereka, literasi tidak diajarkan sebagai kemampuan menaklukkan teks, apalagi mengejar angka.
Ketika Yasuaki-chan meninggal, Kepala Sekolah Kobayashi tidak memberi ceramah moral. Ia tidak menjelaskan kematian dengan definisi rumit.
Ia hanya berdiri, diam, lalu berkata pelan bahwa seorang murid telah pergi. Anak-anak diajak hadir, bukan diarahkan untuk segera “mengerti”.
Totto-chan memahami kehilangan bukan lewat soal pilihan ganda, tapi lewat kenangan: buku yang belum selesai dibaca, pohon yang belum sempat dipanjat lagi, ayam yang mati dan tak pernah bergerak.
Dari situ, empati tumbuh bukan sebagai konsep, melainkan sebagai pengalaman batin.
Di titik ini, kita bisa bertanya: apakah problem literasi anak hari ini semata-mata soal kemampuan membaca dan bernalar? Atau justru karena teks-teks yang kita sodorkan terlalu steril dari kehidupan?
Pak Kobayashi membimbing anak-anaknya dengan satu prinsip sederhana: setiap pengalaman layak dipikirkan.
Ia memberi ruang bagi anak untuk merasa sedih, bingung, bahkan diam. Dari ruang itulah penalaran lahir—bukan sebagai hafalan, tapi sebagai pemahaman yang hidup.
Barangkali anak-anak hari ini bukan kurang literasi, melainkan kehilangan peristiwa yang bermakna untuk dipikirkan bersama.
Kita terlalu cepat mengejar capaian, terlalu sibuk mengukur, sampai lupa bahwa membaca dan bernalar berakar pada empati: kemampuan menempatkan diri pada cerita orang lain.
Sekolah Tomoe milik pak Kobayashi tidak melahirkan anak-anak jenius dalam arti teknis.
Tapi ia melahirkan manusia kecil yang mampu berduka bersama, berjalan diam menuju rumah ibadah, dan memahami bahwa hidup orang lain sama berharga dengan hidup kita.
Dan mungkin, di sanalah literasi yang sesungguhnya bermula. Mungkin saja. *





