LUWUK TIMES – Setelah selama 10 hari Ustad Iswan Kurnia Hasan memberi kajian Alquran bada Shalat Subuh di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, kini giliran Ustad Muadz mentransfer ilmu kepada para jamaah.
Minggu (1/3/2026) Ustad Muadz menyampaikan kajian Alquran yang mengupas kaidah kehidupan dalam Islam.
Dalam tausiyahnya, ia menyoroti pesan mendalam dari Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang kemuliaan manusia disisi Allah.
Ayat tersebut menegaskan, manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Dan yang paling mulia pada sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
“Islam tidak pernah mengukur kemuliaan dari warna kulit, suku, atau keturunan. Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab. Semua setara, yang membedakan hanyalah takwa,” tegas Ustad Muadz.
Ia menjelaskan, hampir seluruh ayat dalam Surah Al-Hujurat berbicara tentang adab dan etika kehidupan.
Mulai dari larangan meninggikan suara kepada orang tua, kewajiban mendamaikan pihak yang bertikai, hingga pentingnya menjaga persaudaraan dan kehormatan sesama.
Islam Menghapuskan Diskriminasi
Menurutnya, Islam hadir untuk menghapus diskriminasi yang kuat pada masa jahiliah.
Pada masa itu, perempuan tidak dianggap mulia, tidak mendapatkan hak waris, bahkan praktik perbudakan merajalela.
Islam datang mengangkat derajat manusia tanpa memandang latar belakang.
Ustad Muadz juga mengisahkan peristiwa pada masa Rasulullah SAW. Salah satunya ketika sahabat Abu Dzar pernah berselisih dengan Bilal bin Rabah.
Rasulullah menegur Abu Dzar dengan tegas, “Engkau masih memiliki sifat jahiliah.”
Teguran itu menjadi pelajaran penting bahwa Islam menolak segala bentuk rasisme dan kesombongan.
Pada tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah meminta Bilal bin Rabah seorang mantan budak untuk mengumandangkan azan di atas Ka’bah.
Banyak orang terheran, namun itulah bukti nyata bahwa Islam memuliakan orang yang beriman dan berilmu. Bukan yang bergelar atau berdarah bangsawan.
Dalam peristiwa lain, saat Fathu Makkah, Rasulullah justru memanggil Bilal untuk masuk ke dalam Ka’bah untuk menghancurkan berhala-berhala di dalamnya.
Pada Haji Wada’, Rasulullah kembali menegaskan bahwa segala bentuk kebanggaan jahiliah telah diletakkan dan tidak berlaku lagi.
Kisah serupa terjadi saat Rasulullah membonceng Usamah bin Zaid dalam perjalanan dengan menaiki unta.
Padahal banyak sahabat berharap mendapatkan kehormatan tersebut.
Usamah adalah putra dari mantan budak. Namun Rasulullah menunjukkan bahwa kemuliaan bukanlah soal status sosial.
Ustad Muadz juga mengangkat kisah Ali Zainal Abidin. Ia adalah cucu Rasulullah, yang menghadiri majelis ilmu seorang mantan budak.
Para sahabat sempat menegur, mengapa duduk bersama bekas budak. Dan ia menjawab bahwa kemuliaan ada pada ilmu dan iman, bukan pada garis keturunan.
Dalam Islam, ada dua faktor utama yang mengangkat derajat manusia, yakni ilmu dan iman.
“Allah meninggikan derajat orang-orang berilmu dan orang-orang beriman,” tutup Ustad Muadz. *
Reporter Sofyan Labolo

