Minisoccer Buana Open Turnamen Hadiyanto Rasyid Cup 2026 berada pada partai puncak. Laga final itu mempertemukan dua tim lokal. Affarel FC kontra Tanjung Tuwis FC.
MINGGU (14/6/2026) malam, Lapangan Mutiara Nambo Kabupaten Banggai berubah menjadi lautan manusia.
Cahaya lampu lapangan menyorot riuh rendah ratusan pasang mata yang tak henti-hentinya bersorak.
Di tengah atmosfer yang membara, sebuah panggung olahraga bertajuk Minisoccer Buana Open Turnamen Hadiyanto Rasyid Cup 2026 tengah mencapai klimaksnya.
Di pinggir lapangan, tatapan waspada namun humanis terpancar dari wajah AKP Muh. Zulfikar.
Sang Kapolsek Kintom tersebut tidak sedang ingin ikut menendang bola, melainkan memimpin “benteng” tak kasatmata.
Bersama 15 personel Polsek Kintom, 15 personel Brimob Luwuk, dan 6 anggota Koramil Kintom, mereka bahu-membahu memastikan bahwa tensi tinggi di dalam lapangan tidak sampai meluber menjadi gesekan di tribun penonton.
Drama Lapangan Hijau
Partai final malam itu mempertemukan dua raksasa lokal: Affarel FC kontra Tanjung Tuwis FC. Peluit ditiup, dan drama pun dimulai.
Setiap operan bola, tekel, hingga peluang emas yang tercipta disambut gemuruh sorak-sorai pendukung yang memadati area.
Persaingan berjalan begitu ketat dan sengit, menguras emosi siapa saja yang menonton.
Namun, setelah melalui duel taktik dan fisik yang menguras keringat, Affarel FC akhirnya menyudahi perlawanan tangguh Tanjung Tuwis FC. Mereka resmi mengukuhkan diri sebagai sang jawara.
Saat trofi diangkat ke udara di bawah rona lampu malam, kemeriahan pecah.
Senyum merekah bukan hanya milik sang juara, melainkan seluruh penonton yang haus akan hiburan olahraga berkualitas.
Lebih dari Sekadar Menendang Bola
Bagi masyarakat Nambo dan sekitarnya, turnamen ini bukan sekadar urusan menang atau kalah di atas rumput hijau.
Ada misi yang lebih besar di balik menggelindingnya bola kulit tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi seluruh panitia, pemain, official, dan masyarakat. Sejak laga perdana hingga partai final malam ini, semua pihak mampu menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” ujar AKP Muh. Zulfikar di sela-sela kegembiraan malam penutupan.
Turnamen sebesar ini memang rawan gesekan, namun kedewasaan warga Kintom dan Nambo terbukti lewat damainya peluit akhir.
Kapolsek menambahkan bahwa ajang seperti Hadiyanto Rasyid Cup ini adalah oase positif bagi generasi muda.
Di luar lapangan, turnamen ini sukses menjadi perekat silaturahmi, merajut kembali tali persaudaraan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan.
Lewat sepak bola, energi muda yang meluap-luap disalurkan ke jalur yang tepat.
Polsek Kintom berharap, kompetisi-kompetisi serupa bisa terus bergulir secara kontinu.
Sebab, di dalam lapangan yang damai dan kompetitif seperti ini, langkah-langkah preventif terhadap kenakalan remaja dan gangguan kamtibmas sedang dibangun satu operan bola demi satu operan menuju masa depan pemuda Banggai yang lebih positif. *
Sumber Humas Polres Banggai yang diolah Redaksi Luwuk Times

