LUWUK TIMES – Kajian Alquran bada Subuh di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Jumat (13/3), menghadirkan pembahasan menarik tentang hakikat hati dalam kehidupan seorang mukmin.
Dalam ceramahnya, Ustad Jazuli Djamaluddin mengajak para jamaah memahami bagaimana hati dapat menjadi tempat turunnya petunjuk Allah.
“Hati adalah tempat berlabuhnya petunjuk Allah,” ujar Ustad Jazuli di hadapan jamaah.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa ketika cahaya Allah masuk ke dalam hati seorang mukmin, maka hati itu akan dipenuhi rasa bahagia dan ketenangan.
Menurutnya, salah satu tanda hati yang mendapat cahaya dari Allah adalah sikap lapang dada dan berjiwa besar dalam menerima berbagai peristiwa kehidupan.
Orang yang hatinya diterangi nur Ilahi akan tetap tenang meskipun menghadapi kekurangan harta atau kesulitan hidup.
“Hati yang telah menerima cahaya Allah akan selalu damai. Walaupun hidup sederhana, hatinya tetap lapang,” jelasnya.
Hijrah ke Medina
Ustad Jazuli juga mencontohkan keteladanan para sahabat Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah.
Banyak di antara mereka adalah pengusaha yang harus meninggalkan seluruh harta bendanya demi mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Meski demikian, mereka tetap tenang dan mantap karena digerakkan oleh kekuatan iman.
“Tidak ada sahabat Nabi yang membawa harta ketika hijrah. Mereka meninggalkan semuanya karena tekad tauhid,” katanya.
Dalam riwayat disebutkan, ketika para sahabat Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah SAW kemudian mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar. Persaudaraan itu menjadi bukti kuatnya keimanan dan keikhlasan para sahabat.
Ustad Jazuli juga menjelaskan tanda-tanda hati yang disinari cahaya Allah.
Salah satunya adalah hati yang selalu menghadap kepada akhirat, menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama tanpa melupakan keseimbangan dengan kehidupan dunia.
“Bukan berarti hanya shalat dan puasa saja, tetapi bagaimana setiap aktivitas kita selalu mengingat Allah dan bekerja untuk mencari ridha-Nya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Nya, maka seakan-akan ia diminta mencari Tuhan selain Allah.
Sebaliknya, hamba yang bersyukur akan dicintai Allah dan diberikan cahaya dalam hatinya.
Sebagai penutup, Ustad Jazuli menceritakan kisah seorang ulama yang selalu tampil rapi dan mengenakan pakaian indah.
Ketika muridnya bertanya mengapa ia berpakaian mewah padahal tidak mencintai dunia, sang ulama menjawab, “Siapa yang mengharamkan perhiasan Allah, termasuk pakaian yang baik?”
Kajian Alquran bada Subuh di Masjid Agung An-Nuur Luwuk ini rencananya akan berlanjut pada pertemuan berikutnya dengan pembahasan lanjutan tentang hati dan kehidupan seorang mukmin. *
Reporter Sofyan Labolo

