LUWUK TIMES, Banggai – Jika Anda berkunjung ke Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, dan menanyakan keberadaan seorang pria bernama Rudi Oga, besar kemungkinan warga setempat akan menggelengkan kepala.
Namun, coba sebut satu nama ini: Alonto. Seketika, senyum hangat dan petunjuk arah akan menyapa Anda.
Siapa sangka, nama “Alonto” yang melengkat erat selama lebih dari empat dekade pada pria berusia 56 tahun ini menyimpan cerita unik. Nama itu bukanlah pemberian orang tua, melainkan sebuah julukan ikonik: Anak Lorong Tolando.
Kisah itu bermula pada tahun 1981. Rudi muda tinggal di kawasan Tolando.
Di dekat rumahnya, terbentang sebuah lorong sepanjang 150 meter dengan lebar tiga meter.
Lorong sederhana itu adalah urat nadi kehidupan satu-satunya akses yang saban hari dilalui anak-anak sekolah menuju SMPN 1 Batui dan SDN 5 Batui.
Dari keriuhan lorong itulah, julukan Alonto lahir dan perlahan “tenggelamkan” nama aslinya.
“Di Batui, kalau ada orang yang cari saya dengan sebutan Rudi, saya yakin mereka tidak akan ketemu. Tapi kalau panggil Alonto, pasti mereka tahu,” tuturnya sembari tersenyum ramah saat berbincang dengan Luwuk Times, Senin (27/07/2026).
Menjaga Kemudi Tiga Era Pimpinan Parlemen
Di gedung DPRD Banggai, Alonto bukanlah sosok asing. Ia adalah saksi bisu dinamika politik daerah dari balik kemudi mobil dinas pimpinan parlemen.
Tiga puluh dua tahun lamanya, jemari Alonto menggenggam erat lingkar kemudi, mengantarkan para wakil rakyat menunaikan tugas negara.
Rekam jejaknya mengagumkan. Ia mengabdi selama 15 tahun sebagai sopir pribadi mendiang Djarun Sibay, mantan Ketua DPRD Banggai.
Tak berhenti di situ, dedikasinya berlanjut selama 15 tahun berikutnya di bawah kepemimpinan Samsul Bahri Mang, baik saat menjabat Wakil Ketua II maupun Ketua DPRD Banggai.
Kini, di era kepemimpinan H. Saripudin Tjatjo, kepercayaan itu belum luntur sedikit pun.
“Alhamdulillah, sudah dua tahun ini saya menjadi sopir Om Arif,” ujar pria yang kini dikaruniai tiga orang cucu tersebut.
Peluh di Jalanan, Sarjana di Rumah
Meski berprofesi sebagai seorang sopir, Alonto memegang satu tekad baja yang tak pernah goyah.
Bagi Alonto, pendidikan anak adalah harga mati yang harus diperjuangkan, tak peduli berapa banyak peluh yang harus menetes di jalanan.
Ia menyimpan prinsip hidup yang begitu dalam. Biarlah sang ayah tak pernah merasakan bangku kuliah, asal anak-anaknya bisa berdiri tegak menggenggam gelar sarjana.
Prinsip itu kini berbuah manis. Dari lima buah hatinya, empat di antaranya telah sukses menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, sementara si bungsu kini tengah berjuang menyelesaikan studinya.
“Alhamdulillah, sekarang tinggal satu anak yang masih kuliah,” bisiknya penuh rasa syukur.
Menjelang masa purnabakti yang jatuh pada Februari 2028 mendatang, Alonto menatap masa depan dengan tenang.
Dari lorong kecil di Tolando hingga mengarungi jalanan panjang bersama pimpinan parlemen, Alonto telah membuktikan bahwa kemudi yang ia pegang bukan sekadar mengantarkan para pejabat menuju kantor, melainkan mengantarkan masa depan anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan. *
Sofyan Labolo
