LUWUK TIMES, Banggai — Dahulu, hamparan hijau Desa Mayayap dan Trans Mayayap adalah simbol kesejahteraan. Di atas tanah subur itu, deru angin menyapu bulir-bulir padi yang melimpah. Setiap satu hektare lahan dengan murah hati memanjakan pemiliknya, menghasilkan lima hingga tujuh ton beras saban panen.
Namun, cerita manis itu kini tinggal kenangan yang menyayat hati.
Sudah lima hingga tujuh tahun lamanya, napas warga tertahan oleh debu dan dampak beroperasinya tambang nikel PT Integra Mining Nusantara (IMN).
Tanah yang tadinya begitu ramah, kini seolah enggan menumbuhkan kehidupan.
Meski sudah dipaksa bercocok tanam, penderitaan petani tak terelakkan. Satu hektare lahan yang dulunya melimpah, kini hanya mampu menyisakan 14 hingga 15 karung gabah.
Penderitaan yang berkepanjangan ini bukanlah sekadar jeritan tanpa alasan.
Tim gabungan dari Dinas ESDM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga Inspektur Tambang Provinsi Sulawesi Tengah telah merambah lapangan.
Hasilnya mengejutkan. Ditemukan 14 indikator penyimpangan atas analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Mulai dari penataan naskah tambang yang diabaikan, reklamasi yang tak tersentuh, hingga pengelolaan limbah B3 yang terbengkalai. Duka warga seolah terkonfirmasi secara sah.
Atas temuan mendasar tersebut, Gubernur Sulawesi Tengah merilis rekomendasi resmi pada 26 Januari 2026.
Namun, kebenaran yang berpijak pada fakta lapangan itu mendadak disanggah oleh pihak perusahaan.
Tim Independen
Sebagai jalannya, ditunjuklah tim independen dari Universitas Tadulako (Untad) Palu untuk turun menyisir lokasi pada 24 Juni lalu.
Kini, hampir sebulan berlalu sejak sampel lingkungan diambil. Namun, kabar dari Untad tak kunjung terdengar. Seakan membiarkan warga Mayayap terus digantung harapan dalam ketidakpastian.
Suara ketegasan pun dilontarkan oleh Kuasa Hukum Masyarakat Desa Mayayap dan Trans Mayayap, Hasrin Rahim.
Kepada Luwuk Times, Selasa (28/07/2026), dengan nada bicara penuh keprihatinan sekaligus desakan keras, Hasrin mendesak Untad Palu untuk segera memublikasikan hasil uji laboratorium tersebut.
“Kami selaku kuasa hukum mempertanyakan, kenapa hingga kini hasilnya tak kunjung turun?” tegas Hasrin Rahim.
Hasil Sampel Unhas
Ganjalan di benak Hasrin dan warga makin membesar ketika membandingkannya dengan langkah mandiri yang diambil masyarakat.
Tanpa menanti ulur tangan pihak luar, warga menyisihkan rezeki mereka untuk membawa sampel serupa ke laboratorium Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada 3 Juli.
Hanya dalam waktu 11 hari atau tepatnya 14 Juli 2026, hasil laboratorium Unhas sudah mengudara.
Secara terbuka, Hasrin menyoroti perbedaan mendasar dalam pembiayaan pengujian tersebut yang memicu keprihatinan mendalam.
“Uji laboratorium di Unhas dibiayai dari keringat dan swadaya masyarakat sendiri. Sedangkan biaya laboratorium Untad ditanggung oleh pihak perusahaan. Karena keterlambatan yang tak wajar ini, patut diduga ada penyimpangan. Kami mempertanyakan independensi Untad,” ujar Hasrin penuh rasa kecewa.
Ia menegaskan, jika Untad Palu memang berdiri tegak sebagai institusi akademis yang independen dan berpihak pada kebenaran demi kepentingan rakyat, maka lembaga tersebut tak perlu menunda hasil laboratoriumnya.
“Jika hasilnya jujur dan sejalan dengan temuan Unhas, kami angkat topi bahwa Untad adalah kampus independen pengayom rakyat,” kata Hasrin.
“Namun, jika hasilnya justru bertolak belakang, patut diduga ada isu suap di dalamnya. Jika itu terjadi, kami berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera turun tangan menelusuri persoalan ini,” tambahnya.
Di akhir keterangannya, Hasrin juga menyentil pihak Satgas agar tidak menunggangi perjuangan panjang masyarakat yang selama bertahun-tahun diabaikan.
Ia mengimbau agar tidak ada pihak yang berpura-pura menjadi “pahlawan kesiangan” di saat titik terang penderitaan warga mulai tersingkap.
Di bawah naungan langit Mayayap yang kini berdebu, ratusan petani masih setia menunggu.
Bagi mereka, hasil laboratorium itu bukan sekadar lembaran angka akademis.
Akan tetapi menjadi penentu nasib, masa depan anak-cucu, serta harkat tanah kelahiran mereka yang kian terkikis. *
Sofyan Labolo
