Inflasi Tinggi, TPID Banggai Bahas Beragam Persoalan dalam Rakor

oleh -464 Dilihat
oleh
TPID menggelar rapat koordinasi atau high level meeting, Rabu (9/7/2025), bertempat Ruang Rapat Umum Kantor Bupati Banggai, Luwuk Selatan.

Banggai, Luwuk Times— Untuk memperkuat sinergisitas dalam pengendalian inflasi Kabupaten Banggai, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar rapat koordinasi atau high level meeting, Rabu (9/7/2025), bertempat Ruang Rapat Umum Kantor Bupati Banggai, Luwuk Selatan.

Bupati Banggai Amirudin memimpin langsung rapat tersebut, dengan membahas sejumlah upaya untuk menekan inflasi yang saat ini tergolong tinggi.

Bank Indonesia mencatat, secara tahunan (year on year), inflasi Kabupaten Banggai pada Juni sebesar 4 persen.

Angka ini tergolong tinggi karena pemerintah pusat menargetkan inflasi hanya berkisar antara 1,5 – 3,5 persen year on year. Sementara secara bulanan, inflasi pada Juni tercatat 0,02 persen month to month.

Benedictus S., ekonom pada Kantor Perwakilan BI Sulawesi Tengah mengatakan, secara bulanan inflasi Banggai berangsur turun, tetapi masih tergolong tinggi.

“Secara bulanannya sudah mulai turun, nah ini akan kita dorong lagi supaya turun lagi. Dan akhirnya bisa kita capai sesuai target sasaran inflasi,” ujar Benedictus.

Adapun komoditas penyumbang inflasi tertinggi yaitu angkutan udara, minyak goreng, dan beras.

Berdasarakan hasil survey BI sampai dengan minggu pertama Juli, komoditas yang perlu adanya antisipasi sebagai penyumbang inflasi tinggi saat ini yaitu ikan, tomat, dan beras.

Sebagai upaya pengendalian, Benedictus menyarankan agar TPID rutin melakukan pemantauan harga dan stok bahan pokok.

“Pemerintah juga perlu melakukan pencanangan gerakan tanam, pelaksanaan pasar murah, serta sidak pasar dan distributor,” ujarnya.

Persoalan beras juga menjadi sorotan. Sebagai produsen beras Sulwesi Tengah, komoditas tersebut justru menjadi penyumbang inflasi tertinggi ketiga di Banggai.

 

Pembeli Luar Banggai

Bupati Amirudin mengatakan, banyak pembeli dari luar Kabupaten Banggai membeli beras langsung pada penggilingan padi dengan harga yang lebih menguntungkan.

“Setelah kami selidiki, penyebab utamanya adalah sejumlah daerah seperti Gorontalo, Manado, Sulawesi Selatan bagian Palopo, Morowali, Bangkep, Balut, itu membeli langsung ke penggilingan padi. Mereka tidak lagi membeli di pasaran tapi langsung ke penggilingan,” terang Bupati Amirudin.

Untuk itu, Bupati akan berdialog dengan para pemilik penggilingan dan mencari solusi agar harga beras bisa stabil di pasaran.

“Kita berharap mereka punya pengertian untuk menahan dulu. Kalau beras sudah tidak jadi penyumbang inflasi yang tinggi, silakan jual ke mana saja. Kita juga berharap mereka mendapat untung lebih banyak,” ujarnya.

Bupati Amirudin juga memerintahkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian secara rutin melakukan sidak. Tujuannya untuk memantau stok dan harga bahan pokok. Terutama komoditas penyumbang inflasi tertinggi.

 

Stok Beras Aman

Kepala Bulog Cabang Luwuk Muhammad Sofiyan Sohilauw mengatakan, pada periode Januari–Mei, pihaknya telah menyerap sebanyak 2.311 ton beras dari petani. Ini sudah melampaui target 2.200 ton yang ditetapkan Bulog pusat.

Olehnya itu, dia menjamin stok beras hingga Desember sangat mencukupi.

“Stok beras pada kami itu ada 6 ribu ton. Dan itu lebih dari cukup sampai dengan Desember,” kata Sofiyan.

Untuk menekan inflasi dari komoditas beras, Juli ini, Bulog akan menyalurkan sebanyak 459 ton beras dari program bantuan pangan kepada masyarakat Kabupaten Banggai. Selain itu pihaknya akan menyalurkan pula program beras SPHP (Stabilisasi Pasokan Harga Pangan).

“Mudah-mudahan dengan penyalurannya yang langsung ke desa, langsung ke masyarakat penerima manfaat, harga beras ini bisa landai,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Bank Indonesia juga mendorong Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) untuk memperluas digitalisasi transaksi keuangan masyarakat serta memodernisasi infrastruktur pendukungnya. *

 

DKISP Banggai