LUWUK TIMES, Banggai – Kekecewaan mendalam dirasakan sejumlah orang tua siswa atlet setelah beberapa cabang olahraga (cabor) dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SD dan SMP di Kabupaten Banggai dikabarkan batal diseleksi.
Salah seorang orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan keluhannya kepada Luwuk Times, Kamis (11/6/2026) malam.
Ia mengaku prihatin terhadap nasib anak-anak yang selama berbulan-bulan telah berlatih keras demi mewujudkan mimpi mengharumkan nama daerah melalui ajang O2SN.
“Besok memang ada upacara pembukaan O2SN SD dan SMP di Gedung Pencak Silat IPSI depan Telkom. Tapi kami sangat kecewa karena ada beberapa cabang olahraga yang justru dibatalkan untuk seleksi,” ujarnya.
Menurutnya, alasan efisiensi anggaran yang digunakan untuk membatalkan sejumlah cabor dinilai tidak adil bagi para siswa yang telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
“Anak-anak sudah berlatih keras. Orang tua juga mengeluarkan biaya untuk latihan dan persiapan. Tiba-tiba seleksi tingkat kabupaten dibatalkan. Tentu mereka sangat kecewa,” katanya.
Ia menilai, jika memang alasan utamanya adalah keterbatasan anggaran, seharusnya keputusan tersebut diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya pada beberapa cabang olahraga tertentu.
“Kalau memang karena efisiensi, kenapa tidak dibatalkan semua cabang olahraga sekalian? Setidaknya tidak ada anak-anak yang merasa diperlakukan berbeda dan kecewa karena mimpi mereka terhenti di tengah jalan,” tuturnya.
Khusus untuk cabang olahraga renang, ia mengaku semakin heran. Pasalnya, renang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang medali terbanyak bagi daerah dalam berbagai ajang kompetisi.
Bahkan, pemerintah saat ini tengah membangun fasilitas kolam renang sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan olahraga tersebut.
“Renang selama ini banyak menyumbang prestasi. Pemerintah juga sedang membangun kolam renang. Harusnya atlet-atlet muda didukung untuk berkembang, bukan malah kehilangan kesempatan bertanding,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat meninjau kembali kebijakan tersebut agar semangat serta motivasi para atlet muda tidak padam hanya karena persoalan anggaran.
“Percuma membangun fasilitas olahraga dengan anggaran besar jika semangat calon-calon atlet daerah justru dipatahkan. Anak-anak ini adalah harapan masa depan olahraga Banggai,” pungkasnya. *
Sofyan Labolo

