LUWUK TIMES, Sleman – Pengalaman melihat langsung aliran gas yang menghidupkan ribuan rumah di Kabupaten Sleman menjadi inspirasi baru bagi Pemerintah Kabupaten Banggai.
Di balik deretan pipa yang tertanam rapi dan sistem distribusi yang bekerja tanpa henti, tersimpan harapan besar agar masyarakat Banggai suatu hari nanti dapat menikmati energi yang lebih murah, aman, dan ramah lingkungan.
Langkah menuju kemandirian energi daerah kini semakin nyata.
Pemerintah Kabupaten Banggai terus menunjukkan keseriusannya membangun masa depan energi yang berkelanjutan.
Itu dibuktikan melalui kunjungan studi banding ke PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Juli 2026.
Dipimpin langsung oleh Bupati Banggai H. Amirudin, rombongan tidak sekadar mengikuti pemaparan di ruang pertemuan.
Mereka turun langsung ke lapangan, menyaksikan bagaimana jaringan gas rumah tangga (Jargas) dikelola hingga mampu menjadi sumber energi utama bagi masyarakat.
Di sejumlah titik operasional, rombongan melihat secara langsung jaringan distribusi gas, Pressure Regulating Station (PRS) yang berfungsi mengatur tekanan gas, hingga kawasan permukiman yang telah lama memanfaatkan Jargas untuk kebutuhan sehari-hari.
Mereka juga mempelajari sistem distribusi berbasis Compressed Natural Gas (CNG). Itu solusi yang memungkinkan gas bumi disalurkan ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa.
Dari kunjungan tersebut, Pemerintah Kabupaten Banggai memperoleh gambaran utuh mengenai proses distribusi gas.
Mulai dari sumber pasokan, pengaturan tekanan, penyaluran melalui jaringan pipa, hingga pelayanan kepada pelanggan.
Pengalaman lapangan ini menjadi referensi penting dalam menyusun strategi pengembangan Jargas yang sesuai dengan kondisi geografis dan potensi wilayah Banggai.
Dalam pemaparannya, PGN menjelaskan bahwa pengembangan jaringan gas tidak hanya dilakukan melalui jaringan pipa konvensional, tetapi juga dengan skema Beyond Pipeline berbasis CNG.
Model ini dinilai sangat relevan diterapkan di Kabupaten Banggai yang memiliki cadangan gas bumi melimpah. Namun sebagian wilayahnya belum terhubung jaringan distribusi.
Bupati Banggai menegaskan bahwa pemanfaatan gas bumi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
“Kabupaten Banggai memiliki sumber daya gas bumi yang melimpah. Sudah saatnya potensi tersebut memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang lebih murah, lebih aman, dan ramah lingkungan,” kata Amirudin.
“Studi banding ini menjadi bekal bagi kami untuk mempercepat pengembangan Jargas sehingga manfaat gas bumi benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat Banggai,” sambung Bupati.
PGN juga mengungkapkan bahwa Kabupaten Banggai saat ini telah memiliki 7.888 sambungan rumah (SR) Jargas yang aktif.
Angka tersebut dinilai masih sangat berpotensi untuk terus ditingkatkan melalui sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta dukungan ketersediaan pasokan gas.
Lebih dari sekadar kunjungan, studi banding ini menjadi ruang belajar mengenai berbagai aspek pengembangan Jargas.
Mulai dari perencanaan, pembiayaan, pembangunan infrastruktur, operasional, pelayanan pelanggan, hingga dukungan regulasi yang diperlukan agar program berjalan optimal.
Bagi Pemerintah Kabupaten Banggai, hasil kunjungan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah yang lebih besar.
Berbekal pengalaman di Sleman, pemerintah daerah tidak hanya memperkuat ketahanan energi daerah.
Akan tetapi juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG bersubsidi sekaligus mengantarkan Banggai menjadi salah satu daerah berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan PGN dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas pemanfaatan gas bumi.
Harapannya, pengembangan Jargas dan pemanfaatan CNG tidak hanya memperkuat ketahanan energi daerah.
Tetapi lebih dari itu dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG bersubsidi sekaligus mengantarkan Banggai menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan energi gas bumi di kawasan Indonesia Timur. *
