Advertising

Example floating
Example floating

Diancam “Hajar” hingga Diintimidasi di Kantor Lurah, Jurnalis di Bunta 1 Ditekan Usai Bongkar Bantuan Beras

Sofyan
Ilustrasi
Nasi Goreng
Dapur Mom's Arsy
Nasi Goreng
Rp 15.000
Mie Goreng
Dapur Mom's Arsy
Mie Goreng
Rp 15.000
Ayam Geprek
Dapur Mom's Arsy
Ayam Geprek
Rp 15.000

Order via WhatsApp
A-AA+A++

Luwuk Times, Banggai — Kerja-kerja jurnalistik dalam mengawal penyaluran bantuan publik kembali mendapat ancaman serius.

Usai menyoroti dugaan pemotongan bantuan beras Badan Pangan Nasional (BPN) di Kelurahan Bunta 1 Kabupaten Banggai, seorang wartawan justru diintimidasi, mulai dari ancaman di media sosial hingga tekanan fisik langsung di dalam fasilitas pemerintah.

IMG-20260829-WA0006

Bentuk tekanan pertama muncul melalui pesan singkat di media sosial dari salah satu akun. Dalam tangkapan layar percakapan yang diperoleh, akun tersebut mengirimkan kalimat bernada gertakan kepada jurnalis terkait.

Baca Juga:  Jejak Langkah Sang Gadis Kecil, Saat Rindu dan Amarah Melebur di Angka 110

“Ikbal..kalu mo meliput berita ..dtng lansung ke tkp.. Jgn cuma bisik dari masyarakat.. . tolong ya..jgn orang mo hajar nt..mksh..”

Saat dikonfirmasi mengenai maksud kata “hajar” dalam pesan tersebut, pemilik akun berdalih dan enggan memberikan klarifikasi yang objektif atas ancaman yang ditujukannya.

Baca Juga:  Bantuan PANADA Mengalir ke Banggai, Bupati Amirudin Apresiasi Kepedulian Gubernur Sulteng

Tak berhenti di dunia maya, intimidasi berlanjut saat awak media mendatangi Kantor Kelurahan Bunta 1.

Niat wartawan hadir secara iktikad baik untuk menerapkan prinsip cover both sides, meminta konfirmasi langsung dari Lurah Bunta 1, eh malah berujung perlakuan tak menyenangkan.

Baca Juga:  Menembus Ombak demi Senyum Warga: Dedikasi Tanpa Batas Puskesmas Pagimana di Desa Kepulauan

Di dalam area kantor pemerintahan tersebut, wartawan justru berhadapan dengan oknum warga yang melontarkan tekanan verbal.

Kehadiran oknum yang bebas melakukan intimidasi di ruang kerja publik ini dinilai sebagai bentuk intervensi berlebihan untuk menghalangi kerja pers dalam mengumpulkan informasi resmi. *

Editor Sofyan Labolo

-->