Jangan Asal Sebar! Di Masjid Agung Luwuk Ustad Muadz Ingatkan Bahaya Hoaks di Bulan Suci

oleh -652 Dilihat
oleh
Kajian Alquran oleh Ustad Muadz di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Senin 2 Maret 2026. (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Memasuki hari ke-12 Ramadhan, kajian Subuh di Masjid Agung An-Nuur kembali menghadirkan tausiyah penuh makna dari Ustad Muadz, Senin (2/3).

Dalam kajiannya, ia mengupas pesan penting dari Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang keharusan memastikan kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa apabila datang seorang fasik membawa kabar, maka umat Islam wajib melakukan tabayyun atau mengecek dan memastikan kebenarannya.

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan, apalagi langsung bersikap. Sebab, penyesalan bisa datang kemudian hari ketika berita yang disebarkan ternyata tidak benar.

Kepada para jamaah shalat Subuh, Ustad Muadz menyoroti fenomena kehidupan modern yang tak lepas dari media sosial.

Ironisnya, arus informasi datang begitu cepat tanpa proses penyaringan. Banyak orang tergesa-gesa membagikan berita tanpa mengetahui fakta sebenarnya.

Kisah di Masa Rasulullah 

Untuk memperjelas pentingnya klarifikasi, Ustad Muadz mengisahkan sebuah peristiwa di masa Rasulullah SAW.

Saat beritikaf di Masjid Nabawi, Rasulullah didatangi istrinya, Shafiyyah binti Huyayy (dalam riwayat dikenal sebagai Shafiyyah).

Setelah itu, Rasulullah mengantarkannya pulang. Tengah perjalanan, dua orang sahabat melihat beliau bersama seorang perempuan dan mulai berprasangka.

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah segera menjelaskan bahwa perempuan yang bersamanya adalah istrinya.

Sikap ini menjadi pelajaran penting bahwa klarifikasi harus ada untuk mencegah prasangka dan kesalahpahaman.

“Kalau kabar itu benar, tentu kita tidak bisa menolaknya. Tapi memastikan kebenaran adalah kewajiban, karena Allah tidak ingin kita menyesal akibat menyebarkan berita yang salah,” tegas Ustad Muadz.

Ia juga mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi hari ini sangat berpotensi memicu pertikaian.

Salah satu sumber informasi yang rawan kesalahan adalah media sosial. Karena kebenarannya sering kali tidak terverifikasi.

Selain itu, Ustad Muadz menyinggung pentingnya berhati-hati dalam menyampaikan dalil.

Beberapa ungkapan populer seperti “niat orang beriman lebih baik dari amalnya” atau “puasa pasti menyehatkan” secara makna bisa benar. Namun harus tetap berhati-hati jika tidak memiliki dalil yang kuat.

Dalam Islam, fanatisme berlebihan juga dilarang. Sikap merasa paling benar dan memaksa orang lain membenarkan pendapatnya justru dapat merusak ukhuwah.

Menutup kajian, Ustad Muadz menyampaikan beberapa poin penting.

Memastikan kebenaran berita adalah cara menjaga ukhuwah dalam kehidupan sosial.

Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menyampaikan setiap berita yang datang.

Memastikan kebenaran informasi tentang seseorang sama dengan menjaga hak dan kehormatannya.

“Jangan jadikan lisan kita sebagai malapetaka bagi orang lain,” pesannya. *

Reporter Sofyan Labolo