Sepasang kaki yang sudah gemetar itu menjadi tumpuan terakhir. Di atasnya, seorang pemuda dengan tubuh yang hampir seluruhnya legam berlumur oli berteriak memberi komando. “Sedikit lagi! Pegang ujungnya!”
SEKETIKA, halaman Mako Polsek Bunta pecah oleh sorak-sorai penonton. Di bawah terik matahari hari Minggu (28/6/2026), sebatang pohon pinang yang licin dan tegak berdiri sukses ditaklukkan.
Perlombaan panjat pinang sore itu menjadi magnet utama dalam puncak perayaan Semarak Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar oleh Polsek Bunta.
Bukan sekadar berebut hadiah yang bergantung di lingkaran bambu atas pohon, acara ini menjelma menjadi panggung kebersamaan yang cair antara aparat kepolisian dan warga sekitarnya.
Sejak siang, puluhan peserta dari berbagai kalangan sudah bersiap dengan strategi masing-masing. Kulit yang bersih berganti hitam mengkilap akibat pelumas.
Berkali-kali mereka membangun menara manusia, berkali-kali pula mereka merosot jatuh ke tanah diiringi gelak tawa penonton yang memadati lokasi. Tidak ada sekat, tidak ada kaku protokoler; yang ada hanya tawa lepas dan semangat pantang menyerah.
Bagi Kapolsek Bunta, IPTU Andi Wijanarko, pemandangan ini adalah esensi asli dari perayaan hari lahir Korps Bhayangkara. Menurutnya, filosofi panjat pinang sangat lekat dengan identitas bangsa.
“Perayaan Hari Bhayangkara menjadi momentum kebersamaan dengan seluruh elemen masyarakat. Kebersamaan inilah modal utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar IPTU Andi di sela-sela keriuhan acara.
Ia melihat bahwa perjuangan para peserta yang saling bahu-membahu mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi kekuatan Indonesia.
Nilai-nilai saling membantu dan kerja keras tanpa alas kaki tersebut, lanjut Andi, sejalan dengan semangat Polri Presisi yang terus digaungkan.
Melalui kemeriahan yang menyatukan tawa warga dan polisi ini, Polsek Bunta berharap Hari Bhayangkara ke-80 bukan sekadar seremonial angka.
Lebih dari itu, peluh dan tawa di bawah batang pinang sore itu menjadi simbol bahwa Polri ingin terus melangkah lebih dekat, tampil lebih humanis, dan tetap dicintai oleh masyarakat yang dijaganya. *


