LUWUK TIMES – Suasana Ruangan Ketua Komisi II DPRD Banggai, Irwanto Kulap, siang itu tak sekadar menjadi tempat menerima tamu.
Percakapan mengalir hangat, penuh canda dan diskusi politik yang cair. Sejumlah tokoh hadir, membahas dinamika daerah hingga wacana Pilkada Banggai mendatang.
Rinto, salah satu yang hadir dalam dialog tersebut, mengaku terkesan dengan sikap Irwanto. Meski berbeda pilihan politik, ia menilai Irwanto tetap terbuka dan bersahabat.
“Pak Irwanto welcome, sekalipun beda pilihan politik. Itu yang beda dengan politisi lainnya,” ujar Rinto.
Dalam diskusi yang berlangsung santai namun serius itu, mencuat pula pandangan bahwa Irwanto Kulap dinilai layak maju sebagai calon 02 pada Pilkada Banggai mendatang.
Wacana itu mengemuka secara spontan, mencerminkan dinamika aspirasi yang berkembang di ruang tersebut.
Nama Bento dan Beni Wanto pun turut mengemuka dalam perbincangan. Beni Wanto bahkan sempat disorot dengan gaya komunikasinya yang khas.
“Wanto ini gaya Obama, tapi tetap gaya Golkar,” celetuk salah satu peserta diskusi, disambut tawa ringan.
Menanggapi perbandingan itu, Rinto melontarkan analogi menarik. “Obama itu ibarat perahu. Tanpa sema-sema, ia kehilangan arah dan jadi sopek,” ucapnya, menggambarkan pentingnya keseimbangan antara gaya dan substansi dalam berpolitik.
Di sisi lain, Bali Mang disebut-sebut tidak akan maju lagi dalam kontestasi Pilkada mendatang. Ia dikabarkan lebih memilih fokus pada pemilihan legislatif DPRD Sulawesi Tengah.
Percakapan semakin ramai ketika Rika Saripudin datang dan menyapa. Ia bahkan sempat berkomentar bahwa ruangan Ketua Komisi II itu nyaris tak pernah sepi.
Menanggapi hal tersebut, Irwanto Kulap menyampaikan pandangannya dengan tenang.
“Bangunan ini dibangun dengan uang rakyat. Jadi wajar jika rakyat datang dan saya jamu,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menegaskan prinsip keterbukaan yang ia pegang. Bagi Irwanto, ruang kerja bukan sekadar kantor formal, melainkan ruang dialog bagi masyarakat.
Di sanalah gagasan, kritik, dan dukungan bertemu—menjadi bagian dari denyut demokrasi lokal yang terus bergerak. *
Reporter Sofyan Labolo












