Advertising

Saat Kepanikan Lumpuhkan Desa Maasing: Simulasi JOB Tomori Latih Kesiapsiagaan Warga Hadapi Bencana

Sofyan
A-AA+A++

Karakteristik geografis desa yang berada di pesisir pantai sekaligus dilewati jalur pipa gas menjadikannya kawasan bertipologi rawan gempa besar.

“Terkadang saat menghadapi bencana, reaksi pertama kita adalah panik. Akibatnya, kita bingung harus melakukan apa. Kita perlu sadar dan paham betul tindakan apa yang harus diambil saat darurat. Semoga sosialisasi ini menjadi bekal nyata,” ungkap Abidzar.

Ia juga membawa kabar baik bahwa tahun depan, Desa Maasing akan didorong menjadi Desa Tanggap Bencana (Destana) dengan komitmen kontribusi penuh dari JOB Tomori.

Pentingnya kesiapsiagaan ini turut ditekankan oleh Romy Irvan Prasetyo. Mengibaratkan kesiapan tanggap darurat dengan kedisiplinan seorang atlet profesional, Romy menyebut simulasi sebagai ruang mengasah refleks keselamatan.

“Bumi kita ini rentan bencana, maka ikhtiar adalah keharusan. Jika ada gempa, jalur pipa gas bisa berdampak fatal jika kita tidak siap. Atlet Olimpiade harus berlatih keras sebelum bertanding. Begitu pula kita dalam menghadapi tanggap darurat—kita harus melatih diri agar siap saat kondisi kritis benar-benar terjadi,” tutur Romy.

Antara Jejak Sejarah Air Asing dan Prestasi Desa Mandiri

Di balik potensi kerentanannya terhadap bencana, Desa Maasing menyimpan cerita historis yang kaya. Kades Maasing, Andi Satuwo Andi Tahang, membagikan sedikit latar belakang desa yang ia pimpin.

Maasing merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Nonong, Kecamatan Batui. Nama ‘Maasing’ lahir dari jejak ingatan para pendatang di masa lalu.

Kala itu, setiap kali pendatang menggali sumur di kawasan tersebut, air yang keluar selalu terasa asin (asing).

Hal itu membuat mereka kerap berpindah-pindah tempat tinggal hingga akhirnya istilah “Masih” dan “Asing” melekat menjadi nama Maasing.

Saat ini, Desa Maasing dihuni oleh lebih dari 1.900 jiwa atau sekitar 561 Kartu Keluarga (KK), yang terdiri dari puluhan suku berbeda.

Keberagaman ini menjadi kekuatan tersendiri bagi desa yang juga menjadi rumah bagi aset-aset vital milik JOB Tomori.

Meski berdampingan dengan risiko industri dan alam, Maasing tumbuh menjadi desa yang sarat prestasi.

Yakni 2022 meraih predikat sebagai Desa Mandiri pertama, 2023 ditetapkan sebagai Desa Cerdas dan 2026 meraih penghargaan Pelunasan Pajak Tercepat serta menerima piala ProKlim (Program Kampung Iklim) yang diserahkan tepat pada momentum Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI, 17 Agustus 2026.

Membangun Benteng Mitigasi

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari dua narasumber ahli. Sekretaris BPBD Banggai, Nurlaela Abdullah, membawakan materi mendalam mengenai Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat.

Sementara itu, Muhamad Fatoni (Safety Section Head JOB Tomori) memaparkan materi teknis bertajuk Potensi Bencana Pipa Gas dan Tata Cara Penanggulangannya.

Melalui simulasi dan sosialisasi ini, warga Desa Maasing kini tidak hanya belajar cara menyikapi gempa atau kebocoran gas

Akan tetapi juga membangun kesadaran kolektif: bahwa bencana mungkin tak bisa diprediksi kapan datangnya, namun kepanikan selalu bisa dikalahkan dengan kesiapsiagaan. *

Reporter Sofyan Labolo

Example 120x600