Tidak Benar Terjadi Pengeroyokan di Dalam Gereja

oleh -899 Kali Dibaca
Pihak jemaat GBI Efrata Luwuk memperlihatkan bukti cctv terkait kronologi kejadian pada Jumat (30/04/2021). (Foto: Istimewa)

LUWUK, Luwuk Times.ID— Para jemaat GBI Efrata Luwuk secara tegas membantah adanya pengeroyokan terhadap Thedy Momulunan di dalam gedung gereja, Jumat pekan lalu. Para Jemaat juga menegaskan bahwa informasi yang disampaikan Thedy itu adalah berita bohong atau hoaks.

“Tidak ada pengeroyokan di dalam gereja, sebagaimana yang dikatakan Thedy. Beritanya syarat dengan rekayasa,” tegas sejumlah jemaat yang ditemui di Pastori GBI Efrata Luwuk, jalan Tanjung Branjangan nomor 32 Luwuk, Senin (03/05/2021).

Kepada sejumlah media mereka menjelaskan kronologi peristiwa, pada Jumat (30/04/2021) sejumlah orang datang ke gedung gereja, termasuk Thedy.

Awalnya mereka menyebut datang dengan baik-baik. Tapi kenyataannya malah tampil sangar. Buktinya, salah satu dari mereka mencabut kabel cctv serta mengarahkan kamera pemantauannya ke arah tembok.

“Ada dari mereka yang mencabut kabel dan mengarahkan cctv ke bagian tembok,” ucap para jemaat sembari memperlihatkan monitor cctv kepada wartawan.

Terkait dengan tuduhan bahwa telah terjadi aksi pengeroyokkan di dalam rumah ibadah, secara kompak dibantah.

Dijelaskan mereka, memang saat itu hanya Thedy yang dimasukkan di dalam gereja. Tujuannya hanya untuk mengklarifikasi beberapa hal, diantaranya status di media sosial yang tidak mengenakan, termasuk alasan mengapa memutuskan kabel cctv sekaligus merubah posisi kamera pemantau yang bukan arah sebenarnya.

Belum mendapat penjelasan memuaskan dari Thedy, tiba-tiba kaca bagian depan gereja di pecahkan yang diduga pelakunya adalah rekan Thedy yang berada di luar ruangan.

Aksi masa yang berada di luar gedung gereja. (Foto: Istimewa)

“Oknum berinisial H yang kami duga memecahkan kaca itu dengan menggunakan benda keras,” kata mereka.

Tidak itu saja, mereka juga menemukan satu buah obeng yang terselip di bagian belakang celana Thedy. Hal ini yang membuat pihak jemaat merasa trauma dan terpancing emosi.

“Kami trauma dengan peristiwa setahun lalu. Saat itu mereka membawa sejumlah benda yang digunakan merusak fasilitas disini,” ucap mereka.

Terkait foto screenshot yang ditayangkan dalam berita media online ini sebelumnya disanggah para jemaat.

“Foto screenshot itu tidak sedang memukul seperti yang disebutkan Thedy. Tapi sedang membuka masker serta topi jaket yang dikenakannya sembari menanyakan siapa yang menyuruh Thedy,” ungkap salah satu dari mereka.

Begitu pula dengan luka goresan di wajah Thedy yang kemudian di visum sebut mereka bukan dari hasil penganiyaan, apalagi diklaim pengeroyokan.

“Wajahnya yang tergores itu saat masuk ke gereja, bukan karena dianiaya,” ucap mereka.

“Kalau pun benar Thedy dikeroyok, tentu bukan hanya wajahnya tergores. Tapi pasti lebih parah lagi. Kalau istilah orang Luwuk, bangkak, bengkok dan bongkok,” tambah mereka.

Soal aduan Thedy bahwa dirinya ditendang juga diluruskan. “Tidak ada yang menendangnya,” bantah salah satu dari mereka.

Memang dalam situasi itu ada kursi yang di lempar. Tapi bukan diarahkan ke Thedy, melainkan diarahkan ke lantai.

“Saya memang membanting kursi di lantai. Sehingga mengena tangan bagian kiri salah seorang ibu yang berada disamping Thedy,” ucap salah seorang jemaat.

Tudingan Thedy bahwa ada oknum pendeta yang memerintahkan adanya aksi itu, tidak dilewatkan untuk diluruskan.

“Saya tidak pernah memerintahkan para jemaat untuk menyeret Thady ke dalam gereja. Itu juga kabar hoaks,” bantah salah satu dari jemaat.

Kondisi yang sebenarnya terjadi sebut mereka, Thady dilindungi dari beberapa jemaat yang sempat tersulut emosi. Bahkan saat berada di dalam gereja, Thady diberi minum.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menahan diri. Dan tidak ada kekerasan yang terjadi,” sebut salah satu dari jemaat yang mengaku masih punya hubungan keluarga dengan Thedy.

Kehadiran aparat kepolisian di TKP (tempat kejadian perkara), sambung para jemaat karena inisiatif mereka.

“Bahkan kami yang minta tolong pada polisi agar yang bersangkutan diamankan. Saya masih ikut mengantarkan Thedy naik di kendaraan polisi,” ucap salah satu jemaat.

Tentang laporan polisi, rupanya pihak jemaat yang lebih awal dibanding Thedy.

“Sebelum Thedy melapor, kami lebih dulu membawa persoalan ini ke ranah hukum dengan tuduhan pengrusakan. Makanya Thedy sempat diamankan kepolisian,” ucap mereka.

Ditanya tentang pemicu utama sehingga terjadi insiden, para jemaat menyebut dilatari gugatan perdata. Atas perkara itu, Pengadilan Negeri Luwuk memutuskan NO.

“Kami memaknai putusan NO PN Luwuk itu adalah, obyek yang disengketakan tetap menjadi penguasaan kami, karena gugatan GpdI tidak diterima,” ucap para jemaat.

Sekali lagi tegas mereka, tidak ada pengeroyokan yang terjadi di dalam gereja. Sehingga untuk meluruskan kabar sepihak itu, kami mengundang para jurnalis memberi klarifikasi. *

(yan)