LUWUK TIMES — Bencana tidak pernah datang dengan aba-aba. Kesadaran inilah yang mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai menyusun sejumlah langkah strategis menghadapi tahun 2026.
Dengan anggaran sebesar Rp1,15 miliar, BPBD Banggai menyiapkan “tameng” perlindungan daerah. Mulai dari upaya pencegahan hingga pemulihan pascabencana.
Kepala BPBD Kabupaten Banggai, Fery Sujarman dalam rilisnya kepada Luwuk Times, Jumat (23/01/2026) mengaku fokus utama program tahun anggaran 2026 tidak hanya pada penanganan saat bencana terjadi. Akan tetapi membangun kesiapsiagaan masyarakat.
“Penanggulangan bencana bukan sekadar soal respon darurat. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat siap dan paham apa yang harus mereka lakukan,” ungkap Fery.
Program prioritas BPBD Banggai tahun 2026 mencakup tiga fase penting penanggulangan bencana. Fery merincikan, yakni pra bencana, tanggap darurat, dan pascabencana.
Seluruhnya terangkum dalam empat kegiatan utama oleh lintas bidang. Mulai dari Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Kedaruratan dan Logistik, hingga Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Pada fase awal, BPBD Banggai menaruh perhatian besar pada edukasi kebencanaan.
Melalui pelayanan informasi rawan bencana, masyarakat akan dibekali pengetahuan lewat sosialisasi, komunikasi, serta edukasi berkelanjutan agar risiko bencana dapat dikenali sejak dini.
Langkah berikutnya sambung Fery adalah memperkuat kesiapsiagaan. Dari gladi bencana, pelatihan keluarga tanggap bencana, hingga penguatan kapasitas kawasan rawan.
“Semua kami siapkan untuk membangun refleks kolektif saat situasi darurat terjadi. Tim Reaksi Cepat (TRC) juga menjadi garda terdepan yang terus diasah kemampuannya agar mampu bergerak cepat dan tepat,” kata Fery.
Saat bencana tak terelakkan, BPBD Banggai memastikan kesiapan pada fase tanggap darurat.
Respons cepat, pencarian dan evakuasi korban, serta ketersediaan logistik menjadi prioritas agar keselamatan masyarakat tetap terjaga.
Tak itu saja. Perhatian juga Fery berikan kepada fase pascabencana.
Penyusunan kajian kebutuhan pascabencana (JITUPASNA), rencana rehabilitasi dan rekonstruksi (R3P), hingga penguatan kelembagaan bencana juga BPBD Banggai siapkan. Itu sebagai fondasi pemulihan yang berkelanjutan.
“Harapannya, dengan perencanaan yang matang, kita tidak hanya mampu bertahan saat bencana datang, tetapi juga bangkit lebih cepat dan lebih kuat setelahnya,” tutup Fery Sujarman. *















