Di Depan Pintu Aula Maleo Polres Banggai, AKBP Wayan Menyambut Wartawan: Jejak Brimob, Hati Seorang Anak Perantau

oleh -55 Dilihat
oleh
Kapolres Banggai AKBP Wayan Wayracana Aryawan berbincang-bincang dengan para jurnalis, bertempat Aula Maleo Polres Banggai. Jumat (27/02/2026). (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

JARUM jam menunjuk pukul 17.20 Wita, Jumat (27/02/2026). Langit Luwuk Kabupaten Banggai mulai meredup, menyisakan semburat cahaya senja yang hangat. Di Aula Maleo Polres Banggai, kursi-kursi telah tertata rapi untuk agenda buka puasa bersama.


SOFYAN LABOLO – LUWUK TIMES

PARA jurnalis yang datang tak langsung memasuki ruangan. Mereka masih berbincang ringan di luar, menunggu waktu yang pas.

Beberapa menit berselang, langkah-langkah kaki mulai terdengar beriringan. Satu per satu pewarta Kota Luwuk melangkah menuju pintu aula.

Di sanalah ia berdiri Kapolres Banggai, AKBP Wayan Wayracana Aryawan. Ia menyambut mereka tepat depan pintu.

Bukan duduk bagian dalam menunggu acara mulai. Bukan pula datang belakangan setelah semua siap.

Ia memilih berdiri, tersenyum dan menyalami setiap wartawan yang datang.

“Selamat datang rekan-rekan wartawan,” ucapnya hangat, sembari menjabat tangan satu per satu.

Gestur sederhana itu terasa kuat. Pada institusi yang kerap identik dengan formalitas dan jarak, AKBP Wayan justru memecah sekat dengan cara yang sangat manusiawi.

Barangkali itu tak lepas dari jejak panjangnya apda Korps Brimob. Terbiasa turun ke lapangan operasi, menghadapi situasi genting dan penuh risiko. Gaya kepemimpinannya terbentuk bukan balik meja, tetapi di tengah medan tugas.

Keluarga Perantau

Lahir dan besar di Pontianak, Kalimantan Barat, AKBP Wayan adalah anak dari keluarga perantau Bali.

Orang tuanya merantau dan menetap di Pontianak. Ayahnya bekerja di Balai Latihan Kerja (BLK). Menghidupi bukan hanya keluarga inti, tetapi juga adik-adik dari kedua orang tuanya.

Rumah mereka, kata Wayan, nyaris seperti “panti asuhan”. Anak-anak keluarga bahkan tetangga ikut dibawa dan disekolahkan. Beberapa antaranya berhasil meraih gelar sarjana.

“Di rumah, saya melihat sendiri bagaimana orang tua membantu banyak orang,” kisahnya.

Nilai itulah yang kini ia lanjutkan.

Pada usianya yang ke-43 tahun, Kapolres Banggai itu telah membantu menyekolahkan sejumlah anak kurang mampu.

Dua antaranya telah ia antar hingga meraih gelar sarjana. Dan upaya itu masih terus berjalan.

Kariernya pada kepolisian sebagian besar Ia habiskan pada Satuan Korps Brimob.

Berbagai penugasan operasi pernah ia Jalani. Mulai Papua, Ambon, Ternate, Poso, dan sejumlah wilayah lain dengan dinamika keamanan yang tak sederhana.

Dari medan operasi hingga ruang-ruang mediasi, ia mengaku satu hal tak pernah merasa diberi kesusahan berlebihan dalam tugas.

“Mungkin karena kebaikan orang tua,” ujarnya pelan.

Sore itu, sebelum azan magrib berkumandang, suasana Aula Maleo terasa lebih cair.

Tak ada jarak kaku antara Kapolres dan para jurnalis. Yang ada hanyalah percakapan ringan, tawa kecil, dan saling menghargai peran.

Depan pintu aula, dengan jabatan tangan dan senyum, AKBP Wayan seolah menunjukkan satu hal sederhana. Kepemimpinan tak selalu tentang perintah dari atas, tetapi tentang kesediaan berdiri sejajar.

Dan mungkin, semua itu memang berakar dari sebuah rumah sederhana di Pontianak. Rumah yang dulu membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar dan tumbuh. *