Guru dan Keagungan Adab: Meneladani Warisan Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari

oleh -853 Dilihat
oleh

 Oleh: Riska Nilmalasari D.A


DALAM perjalanan membangun peradaban, guru memiliki kedudukan yang sangat agung. Bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi juga penjaga akhlak dan penuntun jiwa umat.

Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan ulama besar Nusantara, mewariskan panduan penting bagi para guru: adab terhadap diri sendiri.

Menurut beliau, sebelum seorang guru mendidik orang lain, ia harus terlebih dahulu mendidik dirinya. Karena sesungguhnya, keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada isi pelajaran, tetapi pada akhlak dan adab pembawanya.

Inilah 20 adab yang beliau ajarkan, nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi karakter setiap pendidik sejati. Adapun sebagai berikut:

1. Selalu Merasa Diawasi oleh Allah (Muroqobah)

Guru yang bertakwa senantiasa sadar bahwa Allah melihatnya setiap saat. Ia tidak hanya menjaga perilakunya di depan murid, tapi juga di saat sendiri. Muroqobah menjadikan guru tulus, jujur, dan konsisten, karena ia tidak mengajar untuk manusia, tapi karena Allah.

Baca Juga:  Kantongi SK Bupati Banggai, 953 Guru ASN P3K Mengikuti Pemberkasan Gaji

2. Takut kepada Allah dalam Setiap Tindakan

Rasa takut kepada Allah (khauf) menjadikan guru berhati-hati dalam bersikap. Ia tidak sembarangan dalam berfatwa, memberi nasihat, atau bertindak, karena tahu bahwa setiap kata dan perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban.

3. Tenang (Sakinah) dalam Tindak Tanduk

Ketenangan seorang guru adalah pancaran dari keikhlasan dan keyakinan. Ia tidak mudah gelisah atau reaktif. Kehadirannya memberi keteduhan. Ketika berbicara, ia menenangkan. Ketika marah pun, ia tetap beradab.

Baca Juga:  Festival Panen Hasil Belajar Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 di Banggai

4. Menjaga Diri dari Hal yang Subhat (Wara’)

Guru wara’ menjauhi perkara yang tidak jelas halal-haramnya. Ia menjaga lisannya, hartanya, makanannya, dan segala aktivitasnya agar tetap bersih. Karena bagaimana mungkin ilmu berkah, jika bersumber dari hal yang kotor?

5. Tawadhu (Rendah Hati)

Ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong. Maka seorang guru sejati akan senantiasa tawadhu, tidak merasa lebih tinggi dari murid, rekan, atau masyarakat. Ia sadar bahwa ilmu hanyalah titipan, bukan kebanggaan.

6. Khusyuk dalam Ibadah

Seorang guru yang khusyuk dalam ibadah akan memancarkan ketenangan batin. Ia menjadi teladan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Murid tidak hanya melihatnya sebagai pengajar, tapi juga sebagai sosok yang dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:  Pinjol untuk Pendidikan, Negara Kok Tega?

7. Menggantungkan Urusan kepada Allah

Ketergantungan pada makhluk melemahkan, tapi bergantung pada Allah menguatkan. Guru yang menyerahkan segalanya kepada Allah akan tenang dalam menghadapi masalah dan tidak mudah putus asa.

8. Tidak Menjadikan Ilmu sebagai Alat Duniawi

Ilmu bukan alat mencari popularitas, harta, atau jabatan. Guru yang benar tidak menjual ilmunya demi keuntungan pribadi. Ia mengajar karena cinta, karena amanah, bukan karena imbalan.

9. Tidak Menghormati Berlebih kepada Murid

Penghormatan harus proporsional. Jika berlebih, bisa merusak niat dan melemahkan otoritas guru. Hormat kepada murid tidak boleh sampai menjilat atau kehilangan kehormatan diri sebagai pendidik.

No More Posts Available.

No more pages to load.