10. Zuhud dan Hidup Sederhana
Zuhud bukan berarti miskin, tapi tidak tergantung pada dunia. Guru zuhud hidup dengan cukup, tidak bermegah-megah, dan tidak silau dengan kemewahan. Fokusnya adalah ilmu dan ibadah, bukan harta dan status sosial.
11. Menjauhi Pekerjaan Hina
Guru harus menjaga martabatnya. Ia tidak melakukan pekerjaan yang bisa merendahkan dirinya di mata masyarakat, apalagi yang bertentangan dengan syariat. Ia memilih jalan hidup yang selaras dengan kehormatan ilmunya.
12. Menghindari Fitnah
Guru harus menjaga diri dari lingkungan dan ucapan yang bisa menimbulkan prasangka. Ia tidak ringan berkomentar, tidak suka bergosip, dan tidak mencampuri urusan yang bukan kewajibannya. Keheningan dan kehati-hatian adalah pelindungnya.
13. Menegakkan Syariat Islam
Guru bukan sekadar tahu syariat, tapi menegakkannya. Ia menjadi pelaku nyata dari ajaran Islam: menjaga salat, menutup aurat, jujur dalam muamalah, dan menjadi pelindung nilai-nilai Islam di lingkungan pendidikan.
14. Menghidupkan Sunnah dan Menjauhi Bid’ah
Menghidupkan sunnah adalah bentuk cinta kepada Rasulullah. Guru mengajarkan dan mempraktikkan adab-adab Nabi—dari cara makan, berpakaian, hingga akhlak dalam berinteraksi. Ia juga menjauhi amalan yang tidak bersumber dari syariat.
15. Menjaga Amalan Sunnah
Tidak cukup dengan ibadah wajib, guru memperbanyak sunnah: tahajud, dhuha, puasa sunnah, dzikir pagi petang. Amalan sunnah menjadi penopang ruhiyahnya, penjernih niat, dan sumber kekuatan jiwa.
16. Berakhlak Baik dalam Interaksi Sosial
Guru adalah wajah Islam di tengah masyarakat. Maka ia wajib berakhlak mulia: ramah, jujur, adil, tidak menyakiti, dan membantu sesama. Akhlaknya lebih kuat dari seribu ceramah.
17. Membersihkan Diri dari Akhlak Buruk
Sombong, dengki, riya, malas, kikir, marah berlebihan semua harus dibersihkan. Guru bukan hanya berilmu, tapi juga bersih dari penyakit hati. Ia adalah cermin yang jernih bagi murid-muridnya.
18. Terus Belajar dan Mengamalkan Ilmu
Ilmu adalah amanah. Guru yang berhenti belajar, berhenti tumbuh. Ia membaca, menulis, berdiskusi, menelaah kitab, dan menghadiri majelis. Ia juga mengamalkan ilmunya agar menjadi nyata, bukan sekadar teori.
19. Rendah Hati dalam Menerima Ilmu dari Siapa Saja
Guru sejati tidak malu belajar dari siapa pun, bahkan dari murid. Ia tidak membatasi sumber ilmu hanya pada gelar atau status. Ia sadar bahwa hikmah bisa datang dari mana saja.
20. Produktif Menulis dan Berkarya
Menulis adalah warisan. Guru yang menulis akan meninggalkan jejak kebaikan. Ia tidak hanya menyampaikan ilmu lisan, tapi juga dalam bentuk karya tulis, artikel, buku, atau catatan reflektif yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa kemuliaan guru terletak pada adabnya, bukan sekadar ilmunya. Ilmu yang tinggi namun tanpa adab akan menjadi fitnah, sedangkan ilmu yang sederhana namun dibarengi akhlak mulia akan menjadi cahaya.
Di tengah tantangan zaman, guru muslim dituntut untuk menjadi pelita: yang menuntun dengan ilmu, menyinari dengan adab, dan membimbing dengan kasih sayang.
Dengan meneladani adab-adab yang telah diwariskan oleh ulama seperti Syekh Hasyim Asy’ari, semoga para guru di seluruh penjuru Nusantara bisa menjadi penjaga akhlak, pelurus jalan umat, dan pewaris para nabi yang penuh berkah. Wallahu’allam bishowwab. *
**) Ikuti berita-berita Luwuk Times lainnya di Google News

