LUWUK TIMES – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai melakukan assessment atau kaji cepat dampak kekeringan pada tiga kecamatan, yakni Moilong, Toili, dan Toili Jaya, pada Senin (26/1/2026).
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banggai, Rahmat Asri, didampingi staf Nur Rahmatia Samali, langkah tersebut setelah laporan awal terkait kekeringan masuk ke BPBD pada 21 Januari 2026.
Dedy sapaan akrabnya menjelaskan, kegiatan berawal dengan survei lapangan selanjutnya koordinasi bersama Balai Penyuluh Pertanian dan para petani setempat.

Dari hasil koordinasi sementara, Kecamatan Moilong menjadi wilayah terdampak terluas.
“Di Moilong terdapat 8 desa terdampak. Dengan luas sekitar 986 hektare lahan pertanian. Data ini masih sementara. Karena ada sekitar 200 hektare lagi yang berpotensi terdampak. Meski saat ini masih memiliki sumber air,” jelasnya.
Sementara itu, Kecamatan Toili Jaya, tercatat 3 desa terdampak dengan luas 179 hektare.
Adapun Kecamatan Toili, kekeringan melanda 6 desa dengan total luas terdampak 218 hektare. Pada dua kecamatan tersebut, sumber air sudah mengering.

Untuk penanganan awal, BPBD Banggai telah menyiapkan 1 unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter serta 1 unit mesin alkon. Tujuannya untuk membantu distribusi air ke wilayah terdampak.
Dedy menambahkan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Moilong saat ini mengalami cuaca panas ekstrem. Dan masuk kategori kekeringan hampir ekstrem, mengingat sudah dua pekan tidak turun hujan.
BPBD Banggai juga telah menyiapkan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat sebagai dasar penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Usulan penanganan kekeringan tersebut akan disampaikan kepada Bupati Banggai.
“Rencananya, Bupati Banggai H. Amirudin akan melakukan kunjungan langsung ke tiga kecamatan terdampak pada hari Sabtu mendatang,” pungkasnya. *
Reporter Sofyan Labolo

