Malam ke-11 Ramadhan, Ustad Zulfan Kadim Sindir Anak Muda di Luwuk ber KTP Islam, tapi Belum Terpanggil ke Masjid

oleh -4 Dilihat
oleh
Ustad Zulfan Kadim menyampaikan tausiah pada malam ke-11 Ramadhan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Jumat (27/02/2026). (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Suasana malam ke-10 Ramadhan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Jumat (27/2/2026), penuh dengan pesan reflektif dan ajakan bermuhasabah.

Dalam tausiyahnya, Ustad Zulfan Kadim mengingatkan jamaah tentang pentingnya memanfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan. Hal itu sebagaimana nasihat Rasulullah SAW.

Mengangkat tema “Saatnya Bermuhasabah Diri”, Zulfan yang juga menjabat Sekretaris PHBI Kabupaten Banggai itu menegaskan, memasuki 10 malam pertama Ramadhan adalah momentum evaluasi diri.

“Tidak terasa kita sudah berada pada malam ke-11. Waktu itu laksana pedang, jika tidak kita manfaatkan, ia akan menebas kita tanpa terasa,” ujarnya mengingatkan.

Ia mengutip nasihat Umar bin Khattab yang berkata, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab Allah.” Menurutnya, Allah Maha Teliti terhadap setiap amal perbuatan manusia, sekecil apa pun.

Ramadhan, lanjutnya, ibarat perjalanan panjang kehidupan. Sebelas bulan manusia fokus dengan urusan dunia, maka Ramadhan adalah “halte” untuk berhenti sejenak, mengisi ulang iman dan memperbaiki kualitas ibadah.

Namun ia juga menyoroti fenomena berkurangnya jamaah masjid, meski Ramadhan baru berjalan 10 hari.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang datang ke masjid untuk menunaikan shalat akan mendapatkan pahala seperti shalat malam semalam suntuk.

“Sayang sekali jika kesempatan ini kita sia-siakan. Masjid Agung ini pun perlahan mulai berkurang jamaahnya. Padahal inilah momentum kita mendekat kepada Allah,” tegasnya.

Anak Muda belum ke Masjid

Ia juga menyinggung realitas generasi muda yang masih enggan terpanggil ke masjid.

“Di lampu merah Karaton kita lihat anak-anak muda berkumpul. KTP-nya Islam, tapi belum terpanggil hatinya ke masjid,” ujarnya prihatin.

Dalam ceramahnya, Zulfan memaparkan lima kesempatan yang harus dimanfaatkan sebelum datang lima kesempitan.

Pertama, manfaatkan masa muda sebelum datang masa tua.

Masa muda adalah masa kuat, masa semangat. Jangan sampai energi dan waktu habis untuk hal sia-sia, sementara ibadah diabaikan.

Kedua, manfaatkan masa sehat sebelum datang masa sakit.

Tidak ada jaminan kesehatan itu abadi. Selagi tubuh kuat dan mampu berdiri lama dalam shalat, itulah saat terbaik memperbanyak amal.

Ketiga, maksimalkan masa kaya sebelum datang masa miskin.

Ramadhan mengajarkan arti lapar tanpa membedakan kaya dan miskin. Dari rasa lapar itulah lahir empati, mendorong umat Islam menyisihkan harta untuk mereka yang membutuhkan.

Keempat, gunakan masa lapang sebelum datang masa sempit.

Kesempatan waktu yang luas hendaknya diisi dengan shalat fardu, sunnah, hingga qiyamul lail. Jangan menunggu kesibukan dan kesempitan datang baru menyesal.

Kelima, masa hidup sebelum datang kematian.

Kematian adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadhan tahun depan. Selama napas masih berhembus, itulah kesempatan emas untuk berbenah.

Akhir tausiyahnya, Zulfan mengajak seluruh jamaah menjadikan 10 malam pertama ini sebagai titik balik.

“Allah telah memberi kita nikmat hidayah, iman, dan Islam. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa perubahan,” pungkasnya. *

Reporter Sofyan Labolo