LUWUK TIMES — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Darud Da’wah Permata Sentral, Kecamatan Luwuk Selatan, Selasa malam (03/03/2026).
Pada malam ke-14 Ramadan, jamaah mendapatkan siraman rohani dari Muhammad Hidayat Djamaluddin dalam tausiah berdurasi 15 menit yang penuh makna.
Dalam ceramahnya, Hidayat menekankan pentingnya memanfaatkan waktu, terlebih bulan suci Ramadan yang terus melaju tanpa terasa.
“Putaran waktu itu nyata. Bahkan Rasulullah mengatakan waktu itu seperti pedang. Kalau tidak kita manfaatkan, ia akan menggilas kita,” tegasnya.
Menurutnya, Ramadan kini telah memasuki pertengahan. Semangat ibadah seharusnya semakin menanjak, bukan justru menurun.
Ia mengingatkan agar jamaah tetap istiqomah menjaga shaf terdepan dan tidak mengendurkan kualitas ibadah.
“Yang dipanggil untuk berpuasa itu orang beriman. Kalau tidak beriman, dia akan lewat begitu saja,” ujarnya.
Ustad Hidayat juga menyinggung fenomena sebagian orang yang tidak mampu menahan diri dalam berpuasa.
Bahkan dengan nada sindiran halus, ia menyebut istilah “Korona” kopi, rokok, dan nasi, bagi mereka yang sudah ‘berbuka’ sebelum waktunya.
Dalam tausiah tersebut, ia turut mengisahkan seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah karena tak mampu menahan syahwat setelah menikah.
Rasulullah menyarankan untuk berpuasa dua bulan berturut-turut. Ketika tak sanggup, ia diminta memberi makan anak yatim. Hingga akhirnya Rasulullah memberinya kurma untuk istrinya.
Kisah itu menjadi pelajaran bahwa jalan menuju ketakwaan memang tidak mudah. Tetapi selalu ada solusi dalam syariat Islam.
“Masuklah Islam secara menyeluruh, dan matilah dalam keadaan Islam,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa harus dengan hati, dengan lisan, dan dibuktikan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Dan yakinlah, Allah melihat kita di mana saja,” tuturnya.
Menutup tausiah, Ustad Hidayat mengajak jamaah untuk menjadi mukmin yang baik, istiqomah, dan memiliki jiwa yang lembut.
Sebab, ketakwaan adalah tujuan akhir dari Ramadan yakni membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih taat, dan lebih peduli. *
Reporter Sofyan Labolo

