LUWUK TIMES, Jakarta Selatan — Sebuah unggahan video berdurasi 2 menit 28 detik dari akun Facebook Yusuf Muhammad mendadak viral dan memicu gelombang kritik dari netizen.
Video yang menyoroti kinerja Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di kawasan elit Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini telah mengantongi lebih dari 49 ribu likes, 11,9 ribu komentar, dan dibagikan hingga 7,7 ribu kali.
Bagaimana tidak menjadi sorotan? Koperasi yang disokong dana fantastis hingga miliaran rupiah tersebut dilaporkan hanya meraup keuntungan sebesar Rp78.000 selama enam bulan beroperasi.
“Masa kalah sama toko kelontong? Masa kalah sama warung Madura? Masa kalah sama penjual es kelapa di pinggir jalan?” celetuk narator dalam video viral tersebut.
Dalam cuplikan wawancara yang diunggah, tampak pengelola Kopdes Merah Putih Melawai memberikan konfirmasi terkait angka yang mengejutkan tersebut.
Koperasi yang berdiri sejak Juli 2025 ini secara resmi melaporkan hasil kinerjanya ke Suku Dinas Koperasi Tingkat Walikota.
“Kalau keuntungan, pas kita bikin laporan tahunan 2025 yang kami laporkan ke Suku Dinas Koperasi, kita keuntungan hanya kurang lebih Rp78.000 per 25 Desember kemarin,” ujar pengelola dalam video tersebut.
Artinya, selama kurun waktu setengah tahun berjalan, nilai keuntungan bersih yang dicatatkan unit usaha tersebut tak lebih dari harga dua porsi makanan di kawasan perkotaan.
Kenyataan ini memantik reaksi keras dari publik. Lokasi Kopdes Merah Putih di Melawai tergolong sangat strategis. Itu karena berada di pusat komersial Jakarta Selatan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas model bisnis yang diterapkan.
Para netizen pun menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai nasib unit Kopdes lain di daerah terpencil.
Lokasi Strategis vs Pelosok. Jika unit usaha yang berada di pusat bisnis kota besar saja hanya menghasilkan Rp78 ribu dalam 6 bulan, bagaimana dengan nasib Kopdes Merah Putih yang beroperasi di pelosok, tepi hutan, hingga kawasan terisolasi?
Pernyataan Kontroversial. Tanggapan santai dari pihak manajemen yang menyatakan “Kami memang tidak mencari untung” semakin menyulut kemarahan publik.
Kritik mendalam mengemuka mengingat modal pembentukan dan pengoperasian Kopdes ini bersumber dari dana publik. Publik menilai, alasan “tidak mencari untung” sangat tidak rasional untuk sebuah badan usaha bernilai miliaran rupiah yang disokong oleh uang pajak rakyat.
Hingga berita ini diturunkan, unggahan tersebut masih terus dibanjiri komentar pedas dari warganet yang menuntut transparansi serta evaluasi total terhadap efektivitas program Kopdes Merah Putih. *

