Refleksi Hijriyah: Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik di Tahun Baru Islam

oleh -14 Dilihat
oleh
Karmila Lamadang

Oleh: Karmila Lamadang


TAHUN baru Hijriyah yang dimulai pada 1 Muharram bukan sekadar perayaan pergantian tahun dalam kalender Islam. Lebih dari itu, ia merupakan momen penting untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbarui niat serta amal.

Bagi umat Islam, khususnya para orang tua, momen ini adalah kesempatan emas untuk melakukan refleksi mendalam tentang peran dan tanggung jawab dalam mendidik anak dan membangun keluarga yang diridhai Allah.

1. Hijrah: Bukan Hanya Perjalanan Fisik, Tapi Juga Transformasi Diri

Kisah hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah bukan sekadar sejarah perpindahan geografis. Ia adalah simbol perjuangan, keberanian, dan pengorbanan demi mempertahankan iman dan membangun peradaban yang lebih baik.

Bagi orang tua, spirit hijrah bisa dimaknai sebagai ajakan untuk berpindah dari kebiasaan yang kurang baik dalam pola asuh, menuju metode yang lebih mendekatkan anak pada nilai-nilai kebaikan dan keislaman.

Mungkin selama ini kita sering bersikap reaktif, cepat marah, kurang sabar, atau terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga melupakan kedekatan emosional dengan anak.

Momentum Hijriyah menjadi saat yang tepat untuk melakukan “hijrah pola asuh”: memperbaiki komunikasi, meningkatkan empati, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap ucapan dan tindakan kita menjadi teladan utama bagi anak-anak.

2. Evaluasi Peran sebagai Orang Tua

Refleksi Hijriyah bukan hanya soal niat, tetapi juga evaluasi nyata:

– Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak?

– Apakah kita sudah menjadi tempat mereka mencurahkan rasa, tanpa takut dihakimi?

– Sejauh mana kita sudah menanamkan adab, akhlak, dan nilai-nilai Islam pada mereka?

Mengasuh anak bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan, tapi juga menanamkan fondasi akidah dan akhlak. Tahun baru Hijriyah adalah saat yang tepat untuk memeriksa ulang: Apakah rumah kita sudah menjadi madrasah pertama yang baik untuk mereka?

3. Menanamkan Semangat Hijrah dalam Jiwa Anak

Sebagaimana Rasulullah ﷺ memulai peradaban baru di Madinah pasca hijrah, kita pun bisa mengajarkan semangat perubahan pada anak-anak sejak dini. Ajari mereka bahwa:

– Hijrah itu bukan harus besar; tapi konsisten.

– Hijrah itu tidak mudah, tapi bernilai tinggi di sisi Allah.

– Hijrah bisa dimulai dari meninggalkan kebiasaan buruk kecil, seperti berkata kasar, lalai salat, atau malas belajar.

Gunakan bahasa yang sesuai usia mereka. Misalnya: “Kalau tahun lalu kamu sering lupa salat, yuk kita hijrah jadi anak yang rajin salat.”

Atau: “Kalau dulu sering marah-marah ke adik, yuk mulai tahun ini belajar sabar seperti Rasulullah.”

Dengan begitu, semangat Hijriyah bukan hanya kita rasakan sebagai orang tua, tapi juga ditanamkan dalam jiwa generasi kita.

4. Membuat Resolusi Keluarga di Tahun Baru Hijriyah

Alih-alih membuat resolusi pribadi saja, momen ini bisa menjadi ajang membuat resolusi keluarga. Ajak anak dan pasangan berdiskusi:

– Apa yang ingin kita perbaiki bersama tahun ini?

– Nilai Islam apa yang ingin kita lebih tanamkan di rumah?

– Kebiasaan baik apa yang ingin kita mulai?

Contoh resolusi keluarga:

– Shalat berjamaah minimal satu waktu setiap hari.

– Membaca Al-Qur’an 5 menit sebelum tidur.

– Menghafal satu hadits atau doa pendek setiap pekan.

– Sedekah mingguan bersama anak, meskipun dengan uang receh.

Langkah sederhana ini bisa membentuk karakter dan budaya keluarga yang lebih Islami.

5. Menjadi Teladan dalam Proses Hijrah

Anak tidak hanya mendengarkan kita, tapi lebih banyak meniru. Jika ingin anak menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih disiplin, maka kitalah yang pertama kali harus berhijrah ke arah itu.

Hijrah paling efektif adalah dari dalam rumah:

– Jika dulu suka membentak, kini belajar berbicara lembut.

– Jika dulu jarang ibadah sunnah, kini mulai rutin qiyamul lail.

– Jika dulu boros, kini belajar hidup lebih sederhana dan memberi.

Anak yang melihat perubahan positif dalam diri orang tuanya akan termotivasi mengikuti. Mereka belajar dari contoh nyata, bukan teori.

6. Doa dan Munajat di Awal Tahun Hijriyah

Momen tahun baru Hijriyah juga merupakan waktu terbaik untuk berdoa dan memohon keberkahan. Libatkan anak-anak dalam doa bersama, ajarkan doa awal tahun, dan sampaikan harapan untuk keluarga di tahun yang baru.

Contoh doa yang bisa dibaca bersama:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ السَّنَةَ خَيْرًا لَنَا، وَافْتَحْ لَنَا فِيهَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْلَادِنَا وَأَهْلِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Allah, jadikanlah tahun ini lebih baik bagi kami, bukakan pintu rahmat-Mu, berkahilah anak-anak dan keluarga kami, dan jadikan kami hamba-Mu yang shalih.”

Melibatkan anak dalam doa menciptakan ikatan spiritual keluarga yang kuat dan mengajarkan mereka bahwa setiap perubahan dimulai dengan meminta pertolongan Allah.

Penutup: Mari Berhijrah Bersama Sebagai Keluarga

Hijrah bukan hanya milik masa lalu, tapi tugas kita hari ini. Tahun baru Hijriyah adalah momen emas untuk merenung, memperbaiki, dan melangkah ke depan dengan semangat baru. Sebagai orang tua, mari jadikan Hijriyah sebagai tonggak perubahan:

– Dari gaya asuh reaktif ke gaya asuh yang penuh kasih.

– Dari keluarga yang biasa-biasa saja menjadi keluarga yang Islami dan penuh berkah.

– Dari orang tua yang hanya menuntut, menjadi orang tua yang juga tumbuh dan berubah.

Semoga Allah memberkahi langkah hijrah kita, menerima amal kita, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang shalih dan shalihah, yang meneruskan perjuangan Rasulullah ﷺ dalam membangun umat terbaik. *

**) Ikuti berita-berita Luwuk Times lainnya di Google News