Keterbatasan Ruang Belajar SD Baloa Doda: Siswa Harus Belajar di Ruang PAUD, Harapan akan Ruang Kelas Baru dan Fasilitas Penunjang

oleh -778 Dilihat
oleh
Para siswa SDN Baloa Doda sub desa Kolobias ketika menerima bantuan Seragam sekolah dan alat tulis serta tas sekolah dari pemerintah Desa Baloa yang mengunakan angaran Dana Desa (DD) tahun 2025 lalu. (Foto Pemdes Baloa Doda)

LUWUK TIMES – Di tengah berkembangnya sektor pendidikan di Kabupaten Banggai, masih ada tantangan besar yang dihadapi oleh beberapa sekolah. Salah satunya adalah SD Negeri Baloa Doda yang terletak di Sub Desa Kolobias, Kecamatan Pagimana.

Sekolah yang berstatus kelas jauh ini, meski memiliki jumlah siswa yang cukup signifikan, masih harus menumpang di gedung milik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) setempat.

Hingga saat ini, SDN Baloa Doda yang memiliki 42 siswa terpaksa menggunakan dua ruang PAUD yang disekat menjadi beberapa kelas untuk menampung jumlah siswa yang cukup banyak.

Menurut Kepala Desa Baloa Doda, Roby Tipaka kepada Luwuk Times, Kamis 5 Maret 2026, kondisi ini memaksa pihak sekolah untuk membagi ruang yang ada menjadi enam kelas berbeda.

Namun, dengan hanya tiga ruang yang tersedia dan tiga orang guru yang mengajar, tentu saja situasi tersebut mengharuskan para pengajar untuk bekerja ekstra keras.

Baca Juga:  Tim Pengawas BBM-LPG Banggai Sidak Pangkalan di Pagimana, Apa Hasilnya?

“Untuk saat ini, SDN Baloa sub desa Kolobias masih menumpang di bangunan milik PAUD dengan dua ruang yang dibagi tiga kelas,” kata Roby.

Dengan 42 murid yang harus dibagi dalam ruang yang terbatas, tentu saja membutuhkan kesabaran ekstra dalam mengajar.

“Karena siswa-siswi berada dalam ruang yang berdekatan,” tambah Roby.

Lebih lanjut, Roby juga menyampaikan bahwa kondisi ini tidak hanya mempengaruhi kenyamanan proses belajar mengajar.

Akan tetapi juga meningkatkan beban bagi para guru.

“Ada tiga ruang dalam gedung PAUD ini, dan satu ruang digunakan untuk dua kelas sekaligus. Saat ini hanya ada tiga guru yang mengajar. Jadi, satu guru harus mengajar dua kelas,” ucapnya.

Baca Juga:  Disdikbud Banggai Gelar Pelatihan Pengelolaan Keuangan BOS PAUD di Luwuk

“Tentunya ini sangat membatasi ruang gerak dalam memberikan perhatian kepada masing-masing siswa,” tambahnya.

Selain kebutuhan akan ruang kelas baru (RKB), SD Baloa Doda juga membutuhkan tambahan tenaga pengajar.

Saat ini, semua guru di sekolah tersebut merupakan P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), yang tentu memiliki keterbatasan dalam hal fasilitas dan waktu kontrak kerja.

Meskipun terdapat harapan positif pada tahun 2025 dengan bantuan WiFi dari Dinas Pendidikan, Roby mengungkapkan bahwa fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh sekolah.

“Kami bersyukur mendapat bantuan WiFi, namun sayangnya kami terkendala oleh kurangnya jaringan listrik di sekolah. Tanpa adanya tenaga surya atau sambungan listrik, fasilitas ini belum bisa digunakan secara maksimal,” tambahnya.

Baca Juga:  Harapan IMPBJ Pagimana Kabupaten Banggai Buat AT-FM di Periode Kedua

Dengan segala keterbatasan yang ada, Roby berharap agar Pemerintah Kabupaten Banggai, khususnya Dinas Pendidikan, dapat memberikan perhatian khusus terhadap SDN Baloa Doda.

“Kami berharap ada solusi jangka panjang berupa penambahan ruang kelas baru, serta fasilitas pendukung lainnya agar anak-anak di sini dapat menikmati pendidikan yang layak,” harap Roby.

Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan dalam pemerataan pendidikan di Kabupaten Banggai.

Meskipun sejumlah sekolah telah memiliki fasilitas memadai, sekolah-sekolah yang terletak di daerah terpencil, seperti SD Baloa Doda, masih menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi kualitas pendidikan yang diterima siswa. *

Reporter Anto Yasin