Lapak Ramadan di Jalan MT Haryono dan Asa Pedagang di Tengah Rencana Relokasi ke Kawasan Halimun

oleh -7 Dilihat
oleh
Lapak Ramadan di Luwuk Banggai
Suasana lapak Ramadan yang menjadi pemandangan rutin setiap tahun di ruas jalan MT Haryono Luwuk. (Foto Istimewa)

Bagi para pedagang, Lapak Ramadan di jantung Kota Luwuk bukan sekadar tempat berjualan. Tapi menjadi ruang harapan, sumber penghidupan, sekaligus tradisi yang telah tumbuh dan mengakar selama puluhan tahun.


SOFYAN LABOLO – LUWUK TIMES

SEJARAH lapak Ramadan ini bermula pada era Bupati Banggai Ma’mun Amir. Saat itu jumlah pedagang yang berjualan hanya tiga lapak.

Seiring berjalan waktu, antusiasme masyarakat dan geliat ekonomi Ramadan membuat jumlah lapak terus bertambah.

Tercatat kini mencapai sekitar 30 lapak yang mangkal di ruas jalan MT Haryono Luwuk tersebut.

“Setiap tahun kami berjualan, Alhamdulillah tetap mendapatkan untung. Walaupun besarannya berbeda-beda. Kadang naik kadang turun,” ungkap salah seorang pedagang.

Namun, pengalaman masa lalu menjadi catatan penting bagi para pedagang. Mereka pernah direlokasi ke halaman Masjid Agung pada masa pemerintahan Herwin Yatim.

Alih-alih membawa hasil yang lebih baik, relokasi tersebut justru berdampak sebaliknya.

“Waktu itu banyak teman-teman yang pendapatannya turun drastis. Bahkan ada yang tidak untung sama sekali,” katanya.

Lokasi Lapak Ramadan saat ini dinilai strategis. Itu karena sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Warga Luwuk telah menjadikannya sebagai tujuan rutin setiap Ramadan. Bahkan, tak sedikit konsumen dari luar kota yang datang khusus untuk berbelanja.

“Banyak pelanggan dari luar kota yang sudah jadi langganan kami setiap tahun. Karena itu kami masih berharap bisa tetap berjualan di lokasi ini,” ujar pedagang lainnya.

Baca Juga:  Ketua ALFI/ILFA Banggai Soroti Sulitnya Solar Subsidi, Minta Pemerintah segera Bertindak

Kesadaran terhadap kebersihan dan ketertiban juga menjadi komitmen para pedagang.

Setiap tahun, mereka mengalokasikan dana khusus untuk petugas kebersihan setelah Ramadan berakhir. Dan setiap lapak pun diwajibkan membayar iuran.

Terkait arus lalu lintas, para pedagang menilai kondisi relatif aman dan terkendali. Kepadatan biasanya hanya terjadi menjelang malam takbiran.

“Selain itu aman-aman saja. Bahkan kami siap membayar petugas parkir khusus agar kendaraan pembeli bisa diatur,” kata mereka.

Selama puluhan tahun Lapak Ramadan berlangsung, para pedagang menegaskan belum pernah terjadi kecelakaan lalu lintas pada lokasi tersebut.

Pada dasarnya, para pedagang menyatakan tetap taat dan mendukung kebijakan pemerintah daerah serta program Bupati Banggai.

Rencana Relokasi

Namun, rencana relokasi ke kawasan Halimun menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

“Kalau dipindahkan ke Halimun, jujur kami khawatir. Berdasarkan pengalaman dan data yang kami punya, bisa-bisa banyak yang tidak untung,” ungkap mereka.

Bagi para pedagang, Lapak Ramadan adalah momentum tahunan untuk mencari rezeki di bulan penuh berkah.

Pembelinya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari Gen Z hingga orang tua dan lansia, terutama setelah salat tarawih.

“Mereka lebih suka lapak yang ada di tengah kota. Lagi pula kegiatan ini cuma sebulan, dan sudah menjadi tradisi masyarakat setiap tahun,” tutupnya.

Baca Juga:  Humas Polres Banggai Gelar Coffee Morning Bersama Jurnalis Perkuat Kemitraan

Para pedagang berharap Pemda Banggai bisa membuka ruang komunikasi bersama para pedagang lapak Ramadan.

“Kami yakin bapak bupati sangat peduli dan mensupport para pelaku UMKM. Apalagi penataan dan hal-hal yang dikuatirkan pemerintah bisa kita atur bersama,” ucap pedagang.

“Karena kami sangat berharap bisa diberikan izin untuk bisa menjalankan aktivitas dagang khusus bulan Ramadan,” tambah mereka.

Di tengah rencana relokasi, Lapak Ramadan di Luwuk kini bukan hanya soal tempat berjualan.

Akan tetapi juga tentang menjaga denyut ekonomi rakyat dan tradisi yang telah hidup dari waktu ke waktu. *