LUWUK TIMES – Memasuki malam ke-23 bulan suci Ramadhan, Ustad Abdul Hamidi mengajak umat Muslim untuk merenung dan melakukan introspeksi diri terhadap ibadah yang telah dijalani sepanjang bulan penuh berkah ini.
Menurutnya, tanpa disadari Ramadhan telah memasuki sepuluh malam terakhir. Perasaan haru pun muncul karena waktu terasa begitu cepat berlalu.
“Sepertinya baru kemarin kita menunggu sidang isbat penetapan awal Ramadhan, tetapi kini sudah berada di malam ke-23,” ujarnya dalam tausiyah bertempat Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Kamis 12 Maret 2026.
Ia mengingatkan agar setiap Muslim mengevaluasi ibadah yang telah dilakukan. Apakah puasa yang dijalani benar-benar diterima oleh Allah SWT atau justru hanya menghasilkan lapar dan dahaga semata.
Selain puasa, Ustad Abdul Hamidi juga menyinggung pentingnya kualitas shalat tarawih. Ia menjelaskan bahwa jika shalat dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan kesungguhan, maka dosa-dosa yang lalu dapat dihapus oleh Allah SWT.
Tidak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa Ramadhan dikenal sebagai bulan Alquran. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak membaca dan mentadabburi Alquran selama bulan suci ini.
Sedekah
Dalam tausiyahnya, ia juga menyinggung tentang sedekah. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa ketika Ramadhan berakhir, langit dan bumi seakan menangis karena bulan penuh rahmat itu akan segera pergi.
“Selagi Allah masih memberikan kesempatan pada sisa Ramadhan ini, mari kita manfaatkan dengan memperbanyak ibadah. Rasulullah SAW bahkan semakin mengencangkan ‘ikat pinggangnya’ di sepuluh malam terakhir sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah,” katanya.
Ustad Abdul Hamidi juga mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak doa, terutama jika dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Salah satu doa yang dianjurkan adalah memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa.
Ia menegaskan, ketika Allah mengampuni dosa hamba-Nya, maka Allah juga menjanjikan berbagai keberkahan, termasuk rezeki yang melimpah dan tidak disangka-sangka, serta anak-anak yang menjadi saleh dan salehah.
Bagi mereka yang sedang diuji dengan penyakit atau sering keluar masuk rumah sakit, ia mengimbau agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ayyub AS dalam Surah Al-Anbiya ayat 83 yang tetap berdoa kepada Allah ketika ditimpa penyakit berat hingga akhirnya Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya.
Selain itu, ia juga mengingatkan kisah Nabi Yunus AS yang tetap berdoa kepada Allah saat berada dalam perut ikan di tempat yang sangat sempit dan gelap.
Doa tersebut menjadi pelajaran bahwa seorang hamba tidak boleh pernah berputus asa dari pertolongan Allah.
“Doa-doa para nabi ini berlaku juga bagi umat manusia. Selama kita berserah diri dan memohon kepada Allah, maka selalu ada jalan dan pertolongan dari-Nya,” tutup Ustad Abdul Hamidi. *
Reporter Sofyan Labolo

