Kedalam negerinya, pendidikan berusaha meletakkan karakter dasar disamping identitasnya sebagai anak bangsa. Keluar, pendidikan mendorong perubahan wawasan dan koneksi tak hanya pada aspek kognisi dan psikomotorik, juga afeksi (kultural). Perubahan dapat mencipta agent of change. Kata Dewey, fungsi pendidikan tak lain mengubah diri dan lingkungannya menjadi lebih baik.
Kedua, tata kelola pendidikan. Rendahnya perhatian pada tenaga kependidikan berdampak pada kinerja guru dan dosen yang terkuras energinya dalam pekerjaan administrasi. Presensi, beban kerja, serta kinerja menjadi tanggungjawab total para pendidik. Eksesnya, pendidik lebih berorientasi pada upaya pemenuhan kewajiban administrasi dibanding tugas pokoknya.
Sebuah survei menunjukkan angka ketidakhadiran dosen dengan dan tanpa alasan mencapai 94%. Anehnya, mereka tetap menerima gaji dan tunjangan tanpa korting dengan alasan terpenuhi syarat administrasi. Gambaran ini selain meyakinkan angka ketidakjujuran akademik (16,7% dibawah Kazakhstan; Srholec, 2024), juga bocornya alokasi pendidikan tanpa kualitas yang diharapkan.
Ketiga, minimnya infrastruktur pendidikan menjadikan peserta didik tak betah lama di ruang kelas. Tak hanya media pembelajaran yang didukung teknologi, juga minus laboratorium berstandar. Pola monolog tanpa bimbingan di luar kelas melalui ekosistem yang menyerupai dunia kerja hanya memproduk penghayal. Luarannya surplus pemimpi bukan pemimpin. Dealer bukan leader.
Di luar upaya keras presiden memberi makan gratis, perbaikan jalan dan Jembatan Tarzan menuju sekolah belum tersentuh. Kritik publik dianggap kurang bersyukur dan menganggap semua itu adaptif secara socio-cultural. Bukankah presiden, mentri, gubernur, bupati dan walikota pun tak di chek sekolah, ijazah, dan tak pintar bahasa asing bisa jadi pemimpin hebat. Padahal realitas kekinian butuh lebih dari sekedar kekunoan di atas pondasi keadaban.
Keempat, hilangnya competitiveness melemahkan fighting spirit peserta didik. Pola pendidikan agar semua harus lulus tak merangsang kompetisi bagi lahirnya pembelajar terbaik untuk posisi prospektif. Kondisi ini sering terjadi pada model boarding school yang seterusnya melahirkan budaya birokrasi; kerja tak kerja gaji tetap sama.
Pola stick and carrotĀ perlu dikembangkan. Tujuannya menghela peserta didik berprestasi dan memacu yang lelet. Dengan begitu akan muncul siswa unggul sebagai primus inter pares. Mereka dapat dijadikan role model hingga mencapai titik tertinggi. Pendidikan tak boleh kehilangan karakter di tengah kompetisi yang kian tajam. Baik karakter moral maupun karakter kinerja.
Lemahnya kesungguhan membenahi empat variabel itu dalam jangka panjang menjadikan investasi pendidikan kita cenderung mengalami lost investment ketimbang berharap return investment. Kondisi ini mengakibatkan porsi anggaran terkesan bak menghambur garam di laut. Pendidikan tumbuh tanpa kualitas sumber daya yang membuat kita cemas dan lemas memandang periode emas.
Sejujurnya, kita masih berkutat pada tema politik pendidikan sebagai simbol pembaharuan seperti kasus merdeka belajar. Kita sibuk melengkapi asesoris kurikulum, namun lupa menyentuh variabel lain yang sama pentingnya. Lebih menyedihkan lagi ketika integritas pengelolaan pendidikan bermasalah. Kasus chromebook senilai 9,9 T di Kemendikti sedikit indikasi yang menambah daftar pengkhianatan pendidikan dalamĀ konstitusi. *


