Jarum jam menunjuk ke angka dua siang. Ruang Sekretariat KONI Banggai tampak lengang pada Rabu, 1 Juli 2026.
Sofyan Labolo – Luwuk Times
SEMENTARA di sudut ruangan, kursi Sekretaris KONI, Sugiarto Djanun, masih kosong. Namun, kesunyian siang tu pecah oleh keramahan seorang wanita yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas bersama seorang stafnya.
”Pak Sek lagi keluar. Sebentar lagi ia balik,” sapanya hangat menyambut kedatangan wartawan, sembari menyuguhkan secangkir kopi di atas meja.
Wanita itu adalah Dewi Astuti. Bagi para pegiat olahraga di Kabupaten Banggai, ia bukan lagi sosok yang asing.
Di balik riuh rendah sorak-sorai kemenangan para atlet di podium, ada peran sentral Dewi yang bergerak senyap sebagai Bendahara KONI Banggai.
Jabatan krusial ini telah diembannya selama tujuh tahun terakhir, tepatnya sejak Desember 2019.
Bisa dibilang, kesuksesan cabang olahraga dan kesejahteraan para atlet di Banggai tidak lepas dari “tangan manis” wanita yang akrab disapa Ibu Ben ini dalam menata administrasi keuangan induk organisasi olahraga tersebut.
Kepercayaan Dua Era Kepemimpinan
Menariknya, posisi bendahara di lembaga seperti KONI kerap kali identik dengan sosok yang berlatar belakang pengusaha berduit atau pejabat publik.
Namun, Dewi mematahkan stereotip tersebut. Ia membuktikan bahwa integritas dan kompetensi jauh lebih berharga daripada sekadar jabatan mentereng.
Kesetiaan dan profesionalitasnya teruji melintasi zaman. Sejak masa kepemimpinan Muntasar Abd Azis, istri dari Moh. Ramlan Mokendji ini sudah dipercaya memegang kunci brankas organisasi.
Ketika tongkat estafet kepemimpinan KONI Banggai berpindah ke tangan Amirudin, posisi Dewi sempat digoyang oleh munculnya nama-nama kandidat baru yang ingin menggesernya.
Namun, Dewi tetap kokoh. Kinerjanya yang selalu diganjar nilai A Plus membuat manajemen tak punya alasan untuk menggantinya.
Ketua Harian KONI Banggai bahan Syafrudin Hinelo tak ragu memberikan apresiasi tinggi atas dedikasinya.
”Kuncinya adalah profesional. Karena tidak mudah mengelola uang yang bersumber dari APBD,” ucap ibu beranak satu ini dengan senyum merendah.
Hasil Tangan Dingin Mentor
Keandalan Dewi dalam mengelola angka bukan tanpa proses.
Sekretaris KONI Banggai, Sugiarto Djanun, atau yang akrab disapa Sugi, mengakui bahwa Dewi adalah salah satu produk kaderisasi terbaik yang pernah ia poles di tubuh KONI.
”Dasar pengalamannya sudah ada di perusahaan milik Om Tasar (Muntasar) selama 26 tahun. Jadi, saya hanya butuh waktu dua tahun untuk mentransfer ilmu administrasi keuangan organisasi kepadanya,” ungkap Sugi.
Sugi terbilang sangat sukses mencetak kader pengelola keuangan tangguh dalam diri Dewi.
Kendati demikian, saat disinggung mengenai posisi Kepala Sekretariat yang saat ini masih kosong, Sugi menampik anggapan bahwa dirinya gagal melakukan pembinaan.
”Bukan gagal. Karena saat ini kami masih mengkader dua orang lagi, setelah sebelumnya satu kader terbaik kami memilih berpindah tempat kerja,” jelas Sugi meluruskan.
Di tengah dinamisnya dinamika organisasi dan tuntutan prestasi olahraga Kabupaten Banggai yang kian tinggi, keberadaan sosok seperti Dewi Astuti menjadi jangkar yang menenangkan.
Dari meja kerjanya yang sederhana di sudut sekretariat, ia terus memastikan bahwa setiap rupiah aliran dana daerah mengalir tepat sasaran, demi mencetak pahlawan-pahlawan olahraga Banggai di masa depan. *



