Saat Lapar dan Haus Jadi Kekuatan: Dari Badar hingga 10 Ramadhan, Orang Berpuasa Menang Perang

oleh -6 Dilihat
oleh
Ustad Iswan Kurnia Hasan

Kajian Alquran Ustad Iswan Kurnia Hasan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk


LUWUK TIMES – Kajian Alquran Ustad Iswan Kurnia Hasan bertempat Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Sabtu 28 Februari 2026, menghadirkan satu benang merah sejarah yang menggugah.

Pada saat umat Islam menahan lapar dan haus, justru saat itulah sejumlah kemenangan besar mereka raih.

Kata Iswan dihadapan jamaah shalat Subuh Masjid Agung An-Nuur Luwuk, puasa secara logika tampak melemahkan. Konsumsi makanan yang biasanya tiga kali sehari berkurang drastis.

Tubuh mengalami tekanan fisik, energi menurun, plus beban mental yang tidak ringan.

Namun sejarah justru menunjukkan paradoks. Dalam kondisi fisik yang tidak prima, orang-orang berpuasa mampu menaklukkan tekanan, bahkan memenangkan peperangan besar.

Perang Badar: 315 Orang Puasa Mengalahkan 1.000 Pasukan

Tahun ke-2 Hijriah menjadi tonggak penting. Untuk pertama kalinya puasa Ramadhan wajib bagi umat Muslim. Pada bulan yang sama, tepat 17 Ramadhan, pecahlah Perang Badar.

Sebanyak 315 pasukan Muslim yang sedang berpuasa, dengan persenjataan seadanya, berhadapan dengan sekitar 1.000 pasukan Quraisy yang jauh lebih lengkap dan siap tempur.

Awalnya bukan untuk berperang, namun situasi memaksa mereka menghadapi pilihan pada Lembah Badar kala itu.

Sebelum terjadi pertempuran, Rasulullah SAW sempat bermusawarah dengan para sahabat.

Jawaban para sahabat tegas, mereka siap berjihad. Rasulullah pun berdoa dengan penuh ketundukan, memohon pertolongan Allah.

Hasilnya mencengangkan. Dalam kondisi lapar dan haus, 315 pasukan Muslim memenangkan pertempuran.

Kemenangan itu menjadi simbol bahwa kekuatan iman mampu melampaui keterbatasan fisik.

Khandaq: Menggali Parit Saat Lapar

Tahun ke-5 Hijriah, terjadi Perang Khandaq. Meski puncak pertempuran berlangsung pada bulan Syawal, namun persiapan telah ada sejak Ramadhan.

Madinah saat itu mengalami gagal panen. Tekanan ekonomi, mental, dan ancaman militer datang bersamaan.

Dalam kondisi berpuasa, kaum Muslimin menggali parit sepanjang sekitar 5,5 kilometer dengan kedalaman sekitar 3 meter.

Seluruh kekuatan Arab saat itu bersekutu untuk menyerang Madinah.

Namun strategi dan keteguhan hati membuat pasukan Muslim bertahan dan menggagalkan invasi besar tersebut.

Fathu Makkah: 10.000 Pasukan Berpuasa Menuju Kemenangan

Tahun ke-8 Hijriah, bulan Ramadhan, terjadi Fathu Makkah. Sekitar 10.000 pasukan Muslim bergerak dari Madinah menuju Makkah.

Sebagian berjalan kaki dan sebagian lagi menunggang unta, menempuh perjalanan sekitar 11 hari.

Pada bulan puasa, mereka memasuki Makkah dan kota itu akhirnya dikuasai tanpa pertumpahan darah besar.

Setelahnya, masyarakat Arab berbondong-bondong memeluk Islam. Semenanjung Arab pun berada di bawah pengaruh Islam.

Menaklukkan Persia hingga Menghadang Mongol

Semangat yang sama berlanjut pada generasi setelah sahabat. Dalam Perang al-Buwayb, sekitar 10.000 pasukan Muslim menghadapi kekuatan besar Persia dari Dinasti Sasania yang jauh lebih besar jumlahnya.

Dalam kondisi berpuasa, mereka mampu memukul mundur pasukan raksasa tersebut.

Begitu pula pada Perang Ain Jalut, untuk pertama kalinya pasukan Muslim berhasil menghentikan laju Mongol yang sebelumnya meluluhlantakkan Baghdad dan banyak wilayah Asia serta Eropa.

Dalam bulan Ramadhan, pasukan Muslim mengalahkan pasukan Mongol dalam jumlah tak sebanding sebuah titik balik sejarah dunia Islam.

10 Ramadhan 1973: Saat Puasa Mengguncang Israel

Sejarah modern pun mencatat hal serupa. Dalam Perang Yom Kippur, yang terkenal di dunia Arab sebagai Perang 10 Ramadhan, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel.

Pasukan Mesir berhasil menembus pertahanan kuat Garis Bar Lev dan menyeberangi Terusan Suez.

Serangan itu dilakukan di bulan Ramadhan, dalam kondisi berpuasa.

Setelah kekalahan Arab pada 1948 dan 1967, perang 1973 menjadi momentum kebangkitan moral dan harga diri bangsa Arab.

Lapar yang Melahirkan Kekuatan

Dari Badar hingga 10 Ramadhan 1973, satu pola terlihat jelas bahwa puasa bukan penghalang kemenangan.

Justru dalam kondisi lapar dan haus, muncul disiplin, kesabaran, ketahanan mental, serta ketergantungan total kepada Allah.

Secara fisik, energi mungkin menurun. Namun secara spiritual dan mental, orang berpuasa ditempa menjadi lebih tangguh.

Sejarah membuktikan, ketika iman menguat, keterbatasan jasmani bukan lagi penghalang.

Pesan kajian ini menegaskan, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum.

Tapi bagi Iswan, Ia adalah latihan kekuatan yang dalam sejarah, bahkan mampu mengubah arah peradaban. *

Reporter Sofyan Labolo