Belajar dari Rekam Jejak, Srikandi Pembangunan Sulawesi Tengah

oleh -55 Dilihat
oleh
Nursidah Kasim Bantilan (kanan) pada sebuah kegiatan. (Foto Istimewa)

Penunjukan Nursidah Kasim Bantilan sebagai figur penting dalam birokrasi bukan hanya karena kedekatan personal, tetapi karena gabungan kapabilitas teknis, integritas moral, dan nilai simbolis yang ia bawa dalam pemerintahan.

Ia bukan hanya seorang pegawai negeri, melainkan simbol kemajuan perempuan dan profesionalisme dalam pelayanan publik. Dr. Nursidah Kasim Bantilan mengawali karier birokrasi dengan keseriusan dan dedikasi tinggi.

Puncak kariernya tercatat saat ia menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah, di mana ia mendorong revitalisasi sektor perkebunan melalui pengembangan komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, dan kopi.

Dibawah kepemimpinannya, sektor perkebunan tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga mulai diperkenalkan pada inovasi teknologi dan pendekatan berkelanjutan.

Tidak berhenti di situ, ia kemudian dipercaya sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah, posisi yang memungkinkannya berperan strategis dalam pemerataan pembangunan wilayah, pengembangan kawasan transmigrasi, dan integrasi sosial antara penduduk lokal dan transmigran.

Di tangan beliau, kawasan transmigrasi mulai berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Keteladanan Perempuan dalam Kepemimpinan

Dengan latar belakang akademik yang kuat — gelar insinyur, magister manajemen, hingga doktor — Dr. Nursidah Kasim Bantilan menjadi teladan bagi perempuan Sulawesi Tengah.

Ia menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya mampu mendampingi, tetapi juga bisa berdiri sejajar dan berkontribusi langsung dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan strategis daerah.

Dedikasi dan rekam jejaknya menjadikannya tokoh perempuan daerah yang dihormati, baik di kalangan birokrat, akademisi, maupun masyarakat akar rumput.

Meski tidak lagi menjabat secara formal, gagasan dan pendekatan pembangunan yang ia tanamkan terus menjadi rujukan. Banyak generasi muda, terutama perempuan, yang menjadikan beliau sebagai inspirasi dalam meniti karier pemerintahan dan pengabdian sosial.

Dr. Ir. Hj. Nursidah Kasim Bantilan, MM dikenal sebagai figur perempuan tangguh dan berdedikasi tinggi dalam mendampingi suaminya, Drs. H. Moh. Saleh Bantilan, MM, selama dua periode masa jabatannya sebagai Bupati Tolitoli (1999–2004 dan 2004–2010).

Peran dan kontribusi Nursidah tidak hanya sebagai pendamping kepala daerah, tetapi juga sebagai motor penggerak pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan keluarga, melalui berbagai organisasi sosial.

Peran Nursidah Kasim Bantilan selama mendampingi suaminya sebagai Bupati Tolitoli menunjukkan bagaimana figur istri kepala daerah dapat bertransformasi menjadi agen perubahan, bukan sekadar simbol pendamping.

Beliau menjadi contoh bahwa sinergi antara pemerintah dan gerakan sosial perempuan dapat menghasilkan dampak konkret dalam pembangunan berbasis keluarga dan masyarakat.