Di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Hj. Nursidah Kasim Bantilan, MM sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tolitoli selama dua periode (1999–2004 & 2004–2010), program Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Remaja (BKR) mengalami perkembangan yang luar biasa dan menjadi salah satu kekuatan utama dalam penguatan ketahanan keluarga di Kabupaten Tolitoli.
Program BKB di Tolitoli diarahkan bukan hanya sebagai tempat pembelajaran orang tua, tetapi juga sebagai ruang kolaboratif antar kader, ibu balita, dan posyandu. Di masa kepemimpinan Nursidah:
Kegiatan pembinaan orang tua tentang pola asuh anak berbasis kasih sayang dan stimulasi dini tumbuh kembang anak menjadi agenda rutin. Penggunaan kartu KKA (Kartu Kembang Anak) secara masif dan terintegrasi dengan Posyandu. Pelatihan kader BKB dilakukan secara berkala dengan narasumber dari Dinas Kesehatan, BKKBN, dan PKK provinsi.
Peningkatan jumlah kelompok BKB aktif di desa-desa, termasuk di wilayah terpencil seperti Galang dan Baolan. Distribusi alat peraga edukatif dan modul pembelajaran parenting.
Dampaknya Kesadaran Orang Tua Terhadap Pentingnya 1000 Hari Pertama
Melihat tantangan remaja dengan semakin luasnya pengaruh media dan pergaulan bebas, Nursidah memfokuskan program BKR sebagai benteng moral dan pembinaan karakter remaja berbasis keluarga.
Penguatan komunikasi antara orang tua dan remaja, dengan pelatihan langsung di tingkat dusun dan desa. Pembentukan forum remaja sadar gizi dan reproduksi sehat bekerja sama dengan Puskesmas dan tokoh agama.
Kegiatan rutin seperti “BKR Day”, diskusi tematik remaja, dan penyuluhan bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan pergaulan bebas. Pendekatan edukatif-religius melalui kerja sama dengan madrasah dan pengurus masjid.
Gagasan Membangun Peradaban: Dari Rumah Menuju Kampus dan Pesantren
Di balik kemajuan Kabupaten Tolitoli selama dua periode kepemimpinan Bupati Drs. H. Moh. Maruf Bantilan, MM, terdapat sosok perempuan cendekia yang senyap namun kuat pengaruhnya: Dr. Ir. Hj. Nursidah Kasim Bantilan, MM.
Bukan hanya sebagai istri Bupati dan Ketua PKK yang berprestasi, tetapi juga sebagai penggagas lahirnya pusat-pusat pendidikan strategis di Tolitoli—yang kini menjadi fondasi kemajuan generasi muda daerah.
Bersama sang suami, Nursidah memprakarsai lahirnya Universitas Madako Tolitoli—sebuah jawaban atas kebutuhan pendidikan tinggi yang inklusif di wilayah utara Sulawesi Tengah.
Gagasan Besar
Mencegah eksodus intelektual anak-anak Tolitoli ke luar daerah. Mewujudkan akses pendidikan tinggi berbasis lokalitas dan kearifan budaya Tolitoli. Memberikan ruang pengembangan ilmu, riset, dan pengabdian masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan daerah
Merancang visi kelembagaan, termasuk struktur fakultas dan arah pengembangan keilmuan berbasis potensi lokal (pertanian, perikanan, pendidikan). Mendorong partisipasi tokoh masyarakat, akademisi, dan donatur lokal untuk membangun sarana kampus. Terlibat langsung dalam pengurusan administrasi izin dan legalitas lembaga pendidikan tinggi. *

