Langkah Anggun di Bawah Pedang Pora, Polres Banggai Lepas Dua Perwira Terbaiknya

oleh -117 Dilihat
oleh
Foto Humas Polres Banggai

LUWUK TIMES, Banggai – Halaman Mapolres Banggai yang biasanya riuh oleh kesibukan pelayanan, mendadak diselimuti atmosfer yang berbeda pada Rabu siang (1/7/2026).

Ada rasa bangga, namun berbaur kental dengan keharuan yang tertahan.

Hari itu, dua perwira menengah, Kompol I Nyoman Y. Suradi dan Kompol Hariadi, bersiap melangkah melewati gerbang yang memisahkan masa lalu mereka sebagai abdi negara dan masa depan sebagai warga sipil.

Mereka resmi memasuki masa Purna Bakti sebuah titik akhir dari puluhan tahun dedikasi, malam-malam tanpa tidur demi menjaga kamtibmas, serta pengorbanan waktu bersama keluarga demi seragam cokelat yang mereka banggakan.

Upacara wisuda Purna Bakti ini dipimpin langsung oleh Kapolres Banggai, AKBP Wayan Wayracana Aryawan.

Di hadapan Wakapolres Kompol Frangky J. Rey, para Pejabat Utama (PJU), perwira, bintara, ASN, serta barisan Bhayangkari, suasana khidmat begitu terasa saat prosesi pengalungan medali bunga dan penyerahan cinderamata berlangsung.

Bagi institusi, ini bukan sekadar seremoni formalitas. Ini adalah bentuk restu dan penghormatan paling tulus untuk mereka yang berhasil menyelesaikan tugasnya tanpa cela.

“Pada hari ini saya Kapolres Banggai secara resmi melepas para purnawirawan Polri Polres Banggai, teriring doa ucapan terima kasih atas pengabdian saudara pada Polri, Bangsa, dan Negara,” ucap AKBP Wayan dengan nada suara yang berwibawa namun sarat penghayatan.

Kapolres juga menambahkan sebuah pesan yang menyentuh hati, berharap agar segala peluh dan pengorbanan yang telah diberikan kedua kompol tersebut dicatat sebagai ladang pahala yang terus mengalir di kemudian hari.

Puncak emosi pecah saat tradisi Pedang Pora dimulai. Langkah kaki Kompol I Nyoman Y. Suradi dan Kompol Hariadi perlahan bergerak keluar dari lobi Mapolres Banggai.

Di kanan dan kiri mereka, para perwira muda membentuk barisan, menghunus pedang ke atas, menciptakan sebuah terowongan besi yang berkilau diterpa cahaya matahari.

Satu per satu langkah diambil, mengiringi detak jantung yang melambat menahan haru.

Di bawah lengkungan pedang-pedang tersebut, ingatan akan masa-masa dinas, canda tawa di markas, hingga ketegangan di lapangan seolah berputar kembali.

Seragam dinas yang hari ini mereka pakai mungkin menjadi yang terakhir, namun coretan tinta emas pengabdian mereka telah abadi di Polres Banggai.

Kini, saat pedang diturunkan dan gerbang Mapolres berada di belakang punggung.

Kedua purnawirawan tersebut resmi kembali ke tengah masyarakat sebagai pahlawan yang telah menuntaskan tugasnya dengan kepala tegak. *