Musibah tak pernah memberi kabar saat hendak datang. Pagi yang tenang di Kilometer 2, Kelurahan Bungin Timur, mendadak berubah menjadi duka ketika si jago merah merenggut rumah milik dua bersaudara, Iswan dan Wansyah.
Sofyan Labolo – Luwuk Times
DI BALIK puing-puing bangunan yang menghitam, tak banyak yang tersisa. Namun, di tengah kepulan asap yang menyisakan kepedihan, ada hangatnya rasa persaudaraan yang datang memeluk mereka.
Jumat (31/07/2026), rombongan yang mengatasnamakan Sahabat Alumni SMP Negeri 1 Luwuk bergerak cepat menyambangi lokasi kejadian.
Bagi mereka, Iswan (alumni ’97) dan Wansyah (alumni ’98) bukan sekadar nama di buku kenangan sekolah. Lebih dari itu mereka adalah keluarga yang kini sedang diuji.
Senyum haru dan rasa solidaritas terpancar jelas saat para alumni menyerahkan donasi tunai sebesar Rp11 juta.
Itu adalah hasil patungan dan kepedulian yang dikumpulkan secara spontan oleh sesama rekan seangkatan dan lintas alumni.
“Rasa empati yang mendalam dari Sahabat Alumni SMPN 1 Luwuk membuat kami langsung bergerak cepat menuju lokasi. Alhamdulillah, dari urungan bersama, kami bisa menyerahkan bantuan sebesar 11 juta rupiah,” ujar Ketua Umum Sahabat Alumni SMPN 1 Luwuk, Alfian Djibran, dengan nada penuh haru.
Mengunci Luka dengan Kebersamaan
Bagi Alfian, kepada Luwuk Times, Sabtu (01/08/2026), gerak cepat ini adalah bukti nyata bahwa ikatan yang terjalin sejak masa sekolah tidak pernah luntur oleh waktu.
Bantuan ini diharapkan bisa menjadi penambal awal dari duka mendalam yang dirasakan Iswan dan Wansyah.
Secara khusus, apresiasi mendalam juga dialamatkan kepada angkatan ’97 yang dipimpin oleh Naomi Yusuf.
Tanpa lelah, mereka menjadi motor penggerak utama dalam menggalang donasi di kalangan internal.
“Tentu ini berkat kerja sama dan rasa peduli sesama alumni untuk berbagi. Mudah-mudahan ini setidaknya bisa meringankan beban sahabat kami yang tertimpa musibah. Saya sangat salut atas rasa kebersamaan ini,” kata Alfian.
“Terima kasih kepada seluruh alumni tanpa terkecuali, khususnya alumni ’97 di bawah arahan adik Naomi Yusuf yang begitu gigih menggalang bantuan,” tambah Alfian.
Panggilan Hati untuk Uluran Tangan Lainnya
Aksi ini seolah menjadi pemantik nilai dari motto “One Heart, One School” (Satu Hati, Satu Sekolah). Slogan yang baru saja mereka dengungkan saat merayakan Anniversary ke-75 SMPN 1 Luwuk beberapa hari yang lalu.
Tagline itu tidak berhenti sebagai kalimat pemanis reuni, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan.
Meski demikian, perjuangan Iswan dan Wansyah untuk bangkit dari puing-puing kebakaran masih panjang. Pintu kepedulian masih terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mengulurkan tangan.
“Ini tentu penuh harapan, semoga masih ada donasi susulan, baik dari masyarakat umum, pemerintah, maupun para alumni lainnya, yang tergerak hatinya untuk ikut membantu saudara kita,” tutup Alfian penuh harap.
Di balik duka kebakaran Bungin Timur, Sahabat Alumni SMPN 1 Luwuk telah membuktikan satu hal.
Ketika cobaan merobohkan tempat bernaung, maka persaudaraan dan cinta akan selalu hadir membangunnya kembali. *

