Pelantikan Kepala Daerah: Euforia dan Substansi

oleh -2 Dilihat
oleh
Taufiqurrachman Sandagang

Oleh: Taufiqurrachman Sandagang

SETIAP kali pelantikan kepala daerah digelar, euforia selalu tampak mencolok. Ornamen megah, barisan ucapan selamat, iring-iringan simpatisan, hingga gegap gempita di media sosial menjadi pemandangan yang seolah wajib hadir.

Momentum ini dimanfaatkan sebagai ajang unjuk kekuasaan atau simbol kemenangan politik. Namun di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan mendasar, apakah euforia tersebut masih memiliki makna mendalam atau justru menjauh dari substansi kepemimpinan yang sebenar-benarnya (sejati/hakiki)?

Pelantikan kepala daerah seharusnya dimaknai sebagai awal dari sebuah tanggung jawab besar, bukan akhir dari sebuah kompetisi politik. Prosesi tersebut menandai dimulainya amanah rakyat yang harus dijalankan dengan integritas, visi, dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Sayangnya, substansi pelantikan sering kali tertutupi oleh hiruk-pikuk seremonial yang lebih menonjolkan aspek simbolik ketimbang esensi.

Fokus publik dan media lebih banyak tertuju pada tampilan luar: siapa yang hadir, apa busananya, atau bagaimana seremoni berlangsung.

Baca Juga:  Tompotika dan Dinamika Masyarakat Adat Lobo, Loinang, dan Lo'on di Timur Sulawesi

Sedikit sekali ruang untuk mengulas program prioritas pascapelantikan, arah kebijakan, atau bentuk akuntabilitas yang akan diterapkan.

Euforia yang berlebihan dapat menimbulkan ilusi bahwa tugas kepala daerah telah selesai dengan pelantikan, padahal kenyataannya baru dimulai.

Di sisi lain, pelantikan memang layak dirayakan sebagai bentuk penghargaan terhadap proses demokrasi. Namun, harus ada keseimbangan antara ekspresi kemenangan dengan komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab.

Idealnya, pelantikan menjadi momentum reflektif bagi pemimpin dan rakyat untuk menegaskan arah pembangunan daerah, memperkuat akuntabilitas, serta membangun kepercayaan publik.

Kini, saatnya semua pihak, baik pejabat terpilih, partai politik, maupun masyarakat mereformulasi cara pandang terhadap pelantikan kepala daerah. Jangan lagi menjadikannya sekadar panggung formalitas, tetapi sebagai tonggak awal perubahan yang nyata. Substansi kepemimpinan harus ditempatkan di atas segala bentuk euforia.

Baca Juga:  Kepemimpinan Adaptif di Tengah Dinamika Politik: Membaca PAN Banggai di Bawah Haji Akmal Ilyas

Selamat Hari Lahir Pancasila dan Selamat Atas Dilantiknya Bupati Banggai periode 2025-2030 Bapak Haji Amirudin Tamoreka dan Bapak Haji Furqanuddin Masulili. AT-FM 2P. *

Penulis adalah Wakil Ketua PBB Kabupaten Banggai