LUWUK TIMES, Banggai – Hasil panen melimpah sering kali menjadi dilema bagi para petani ketika harga pasar melonjak turun atau komoditas mentah tak terserap sempurna.
Menjawab tantangan tersebut, PT Panca Amara Utama (PAU) berkolaborasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Banggai menghadirkan solusi konkret melalui penguatan sektor hilirisasi pertanian.
Pada Rabu (26/8), bertempat di Kantor Dinas TPHP Kabupaten Banggai, penyerahan bantuan peralatan pengolahan hasil pertanian disalurkan secara resmi kepada dua kelompok binaan, Kelompok Tani Srikandi Mandiri (Kelurahan Nambo Lempek, Kecamatan Nambo) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Jaya (Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom).
Dukungan ini bukanlah langkah singkat. Sejak 2023, kedua kelompok tani tersebut telah mendapatkan pendampingan intensif.
Pola pembinaan yang berfokus pada peningkatan nilai tambah kini membuahkan hasil nyata.
Dari tangan-tangan kreatif para anggotanya, lahir berbagai produk olahan pangan bernilai ekonomi tinggi, seperti abon cabai, saus tomat, hingga bawang goreng renyah.
Untuk memperkuat kapasitas produksi dan meningkatkan daya saing pasar, PT PAU dan Dinas TPHP melengkapi fasilitas kerja mereka dengan seperangkat peralatan modern.
Yakni, alat produksi dan pengolahan, berupa blender, alat pengiris, parut kelapa, wajan, spatula, hingga serok khusus bawang goreng.
Selain itu, perlengkapan pendukung, masing-masing baskom, ember, baki dan keranjang buah.
Selanjutnya ada teknologi kemasan, meliputi mesin sealer, kertas stiker, serta wadah kemasan premium siap edar untuk produk minyak kelapa, bawang goreng, saus tomat, dan sambal roa.
Mendorong Diversifikasi dan Kemandirian Ekonomi
External Relation Lead PT PAU, Novari Mursita, menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Fokus utamanya adalah mendorong diversifikasi komoditas agar petani tidak lagi bertumpu pada satu jenis hasil panen mentah.
“Langkah strategis ini bertujuan agar petani mampu meningkatkan nilai jual produk mentah menjadi barang olahan bernilai tinggi. Kami ingin melihat petani tidak hanya sukses menanam, tetapi juga terampil mengolah hasil panennya sendiri,” ujar Novari.
Pengolahan pascapanen menjadi kunci utama untuk menekan risiko kerugian akibat pembusukan hasil tani, sekaligus memperluas jangkauan pasar baru.
Dengan kemasan yang ciamik dan kualitas terjamin, produk lokal Banggai kini siap bersaing dan menjadi tumpuan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. *








