Tarawih, Puasa, dan Zakat Satu Paket: Pesan Masran Abajia di Malam ke-18 Ramadhan Masjid Agung An-Nuur Luwuk

oleh -38 Dilihat
oleh
Jamaah Masjid Agung An-Nuur Luwuk saat mendengarkan tausiah yang disampaikan H. Masran Abajia, Sabtu (07/03/2026). (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Malam ke-18 Ramadhan H. Masran Abajia tampil sebagai pembawa tausiah, bertempat Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Sabtu (7/3/2026).

Dihadapan para jamaah ia mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi ibadah hingga akhir Ramadhan.

Menurutnya, dari pengamatannya selama berdakwah, kondisi jamaah berbagai tempat hampir sama. Awal Ramadhan masjid penuh jamaah. Namun memasuki pertengahan hingga akhir bulan suci jumlahnya mulai berkurang.

“Malam ke-18 ini kita melihat shaf mulai maju. Hampir semua tempat kondisinya sama. Semoga jamaah yang masih istiqomah mendapat rahmat dari Allah sampai selesai Ramadhan. Dan semoga kita semua masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan,” ujarnya.

Pada muqadimah tausiah, ia menegaskan bahwa nikmat terbesar yang dimiliki seorang muslim adalah nikmat iman. Menurutnya, iman menjadi dasar utama dalam menjalankan seluruh ibadah, termasuk ibadah bulan Ramadhan.

Ibadah Satu Paket

Masran menekankan bahwa ibadah Ramadhan sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ia menyebut tarawih, puasa, dan zakat merupakan satu paket ibadah yang saling melengkapi.

“Tarawih, puasa, dan zakat itu satu paket. Ulama bahkan mempersoalkan keislaman seseorang jika tidak mampu menjalankan paket ibadah tersebut dengan baik,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk tetap konsisten menjalankan ketiga ibadah tersebut hingga akhir Ramadhan. Ia juga mengingatkan pentingnya memperbaiki hubungan dengan sesama sebelum berharap ibadah diterima oleh Allah.

“Jangan sampai puasa tidak diterima karena istri belum meminta maaf kepada suami, anak kepada orang tua, atau sesama umat yang masih tidak saling tegur sapa,” katanya.

Dalam tausiah tersebut, Masran juga mengangkat tema tentang orang yang tekun membaca Alquran. Ia menegaskan bahwa Alquran adalah tempat kembali bagi umat Islam yang sedang mengalami kegelisahan.

“Kalau ada yang galau, kembali saja ke Alquran. Insya Allah hati kita akan tenang,” ujarnya.

Menutup tausiahnya, Masran mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar persiapan untuk tampil dengan pakaian baru pada 1 Syawal. Lebih dari itu, Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak saling merendahkan atau mengolok-olok orang lain.

“Jangan mengolok orang lain, karena bisa jadi orang yang kita olok justru lebih mulia di sisi Allah dibandingkan kita yang mengolok,” pungkasnya. *

Reporter Sofyan Labolo