Advertising

Example floating
Example floating

Di Antara Debu Tambang dan Sawah yang Hilang, Suara Mayayap Menggema di PT Integra Mining Nusantara Indonesia

Sofyan
Aksi demo warga terhadap PT Integra Mining Nusantara Indonesia. (Foto Istimewa)
Mie Goreng
Dapur Mom's Arsy
Mie Goreng
Rp 15.000
Ayam Geprek
Dapur Mom's Arsy
Ayam Geprek
Rp 15.000
Nasi Goreng
Dapur Mom's Arsy
Nasi Goreng
Rp 15.000

Order via WhatsApp
A-AA+A++

LUWUK TIMES – Pagi berlokasi wilayah operasional PT Integra Mining Nusantara Indonesia Desa Siuna Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai tak sepenuhnya diisi deru aktivitas tambang.

Senin (23/2/2026), sejak pukul 09.34 hingga 11.39 WITA, suara warga Desa Mayayap dan Trans Mayayap mengambil ruang, menyusup diantara rutinitas kerja dan debu yang beterbangan.

IMG-20260829-WA0006

Mereka datang bukan sekadar berkumpul, melainkan membawa keresahan yang telah mengendap sejak 2020.

Para petani, yang dulu menggantungkan hidup pada hamparan sawah, kini berdiri dengan cerita tentang lahan yang berubah fungsi dan penghidupan yang perlahan menyusut.

Baca Juga:  Mobil Pick Up Tabrak Bocah Pejalan Kaki di Kintom

Bagi masyarakat, ini bukan semata soal tata ruang. Ini tentang dapur yang tak lagi mengepul seperti dulu, tentang musim panen yang kehilangan makna, dan tentang pendapatan harian yang kian sulit ditebak.

Produksi pertanian menurun, ketahanan pangan rumah tangga melemah, sementara kejelasan penyelesaian dinilai belum pernah benar-benar terasa.

Di bawah terik yang merambat menuju siang, tuntutan itu kembali ditegaskan, realisasi kompensasi atau “uang dampak” sebagai bentuk tanggung jawab minimal atas kerugian yang mereka rasakan bertahun-tahun. Warga juga meminta dialog terbuka yang tidak berjalan sepihak.

Baca Juga:  Tak Kenal Medan dan Waktu, Puskesmas Pagimana Jemput Bola Layani Warga di Wilayah Kepulauan

 

Tokoh Perempuan

Gita Gibran, Kader SMI Cabang Luwuk sekaligus tokoh perempuan Desa Mayayap. (Foto Istimewa)

Di tengah barisan warga, Gita Djibran, kader Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Luwuk sekaligus tokoh perempuan Desa Mayayap, menyampaikan suara yang tegas namun sarat emosi.

“Kami tidak anti pembangunan. Tapi pembangunan tak boleh mengorbankan rakyat. Dampaknya sudah nyata: lahan berubah, penghasilan menurun, dan sampai hari ini belum ada penyelesaian yang transparan dan adil,” ujarnya.

Ia menekankan, perempuan desa menjadi kelompok yang paling merasakan dampak. Ketika lahan pertanian hilang, bukan hanya angka pendapatan yang terdampak, tetapi juga keberlangsungan hidup keluarga.

Baca Juga:  Jejak Langkah Sang Gadis Kecil, Saat Rindu dan Amarah Melebur di Angka 110

“Kehilangan lahan berarti kehilangan sumber pangan dan ekonomi rumah tangga. Kami ingin dialog yang sungguh-sungguh, bukan sekadar janji,” tambahnya.

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Namun di balik ketertiban itu, tersimpan kegelisahan panjang, rasa menunggu yang tak kunjung menemukan ujung.

Hingga berita ini turun, pihak PT Integra Mining Nusantara Indonesia belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan warga.

Sementara itu, masyarakat menyatakan tekadnya tetap sama, memperjuangkan hak hingga hadir kejelasan dan penyelesaian yang adil serta bermartabat. *

Editor Sofyan Labolo

-->