Malam Ketiga Ramadhan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk: Ustad Zen Ingatkan Keikhlasan Puasa hingga Penyebab 965 Kasus Perceraian di Banggai

oleh -517 Dilihat
oleh
Ustad H. Zainal Abidin Alihamu atau Ustad Zen
Ustad H. Zainal Abidin Alihamu atau Ustad Zen

LUWUK TIMES — Suasana malam ketiga Ramadhan di Masjid Agung An-Nuur, Jumat (20/02/2026), terasa khidmat. Ratusan jamaah yang memadati masjid larut dalam tausiah yang disampaikan Ustad H. Zainal Abidin Alihamu.

Dalam ceramahnya, dai yang akrab disapa Ustad Zen itu mengajak jamaah memaknai Ramadhan lebih dari sekadar perubahan jadwal makan.

“Ramadhan datang bukan untuk merubah jadwal makan kita, tapi untuk merubah cara hidup kita. Ramadhan hadir bukan untuk menghakimi masa lalu, tapi untuk menyelamatkan masa depan,” ujarnya.

Ia meneladankan bagaimana Rasulullah SAW menyambut Ramadhan dengan kegembiraan. Ustad Zen mengutip kisah para sahabat saat Rasulullah menyebut Ramadhan sebagai “orang yang mensucikan”.

Baca Juga:  Jangan Putuskan Silahturahmi, Pesan Ketua MUI Banggai Tausiah di Masjid Karaton

“Bulan ini yang mensucikan kita dari dosa dan maksiat. Sebelas bulan kita bergelut dengan kekhilafan, Allah berikan satu bulan untuk membersihkan diri,” katanya.

Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus sejak fajar hingga magrib, melainkan latihan ketaatan dalam segala keadaan.

Parallax Image

“Puasa mengajak kita taat saat lapar, dan tetap taat saat kenyang,” tegasnya.

Ustad Zen juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam beribadah. Tanpa keikhlasan, semangat di awal Ramadhan bisa melemah di pertengahan, bahkan hilang di akhir.

“Itulah sebabnya orang tua kita berkata, jadilah orang paling ikhlas, jangan hanya ingin jadi orang paling baik. Dalam keikhlasan pasti ada kebaikan, tapi dalam kebaikan belum tentu ada keikhlasan,” tuturnya.

Baca Juga:  Tak Semua Direlokasi ke Kawasan Halimun, Bazar Ramadhan Tetap Hadir di Jantung Kota Luwuk

Ia menutup bagian tausiah tentang puasa dengan pesan bahwa ibadah tersebut mendidik manusia menjadi pribadi bertakwa, sabar, dan taat.
“Yang tahu kualitas puasa kita hanya Allah dan diri kita sendiri,” ucapnya.

 

Soroti 965 Kasus Perceraian

Pada bagian lain ceramah, Ustad Zen menyinggung persoalan sosial di Kabupaten Banggai. Ia menyebut, sepanjang 2025 tercatat 965 kasus perceraian.

“Ternyata ada tiga penyebab utama,” katanya.

Pertama, faktor ekonomi.

Menurutnya, persoalan bukan semata ketidakmampuan, tetapi bagaimana pengelolaan keuangan dalam rumah tangga. Ia mengingatkan pentingnya keterbukaan dan tanggung jawab suami terhadap nafkah keluarga.

Baca Juga:  Kakan Imigrasi Banggai Bukber dengan Jurnalis di Luwuk

Kedua, gaya hidup.

Ustad Zen menyoroti kecenderungan sebagian orang yang memaksakan penampilan di atas kemampuan.

“Jangan takut hidup susah. Yang harus ditakutkan adalah gaya hidup yang membuat kita susah,” pesannya.

Ketiga, pernikahan dini tanpa kesiapan.

Ia mengibaratkan rumah tangga seperti motor balap.

“Bukan seberapa cepat kamu melaju, tapi seberapa tulus kamu bertahan ketika terjatuh,” ujarnya.

Di akhir tausiah, Ustad Zen mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat keikhlasan, dan menjaga keutuhan keluarga.

“Ramadhan adalah kesempatan. Mari maknai hidup dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. *

Reporter Sofyan Labolo