Advertising

Example floating
Example floating

Di Balik Denting Domino: Malam yang Hangat Merajut Persaudaraan Hepy Manopo dan Bali Mang di Luwuk

Sofyan
Mie Goreng
Dapur Mom's Arsy
Mie Goreng
Rp 15.000
Ayam Geprek
Dapur Mom's Arsy
Ayam Geprek
Rp 15.000
Nasi Goreng
Dapur Mom's Arsy
Nasi Goreng
Rp 15.000

Order via WhatsApp
A-AA+A++

LUWUK TIMES – Riuh sederhana dari sebuah warung kopi di Kilometer 5, Luwuk, Selasa malam (21/4/2026), menghadirkan suasana yang lebih dari sekadar tempat berkumpul.

Di balik kepulan aroma kopi dan denting kartu domino yang saling beradu, tersimpan kisah tentang rindu yang pulang, kenangan yang hidup kembali, dan persaudaraan yang kembali dirajut erat.

IMG-20260829-WA0006

Malam itu, Hepy Yeremia Manopo yang akrab disapa Om Hepy hadir bersama Syamsul Bahri Mang atau Om Bali Mang.

Keduanya menyatu di tengah ratusan pegiat olahraga gaple atau domino, larut dalam suasana yang jauh dari kesan formal.

Baca Juga:  Dorong Media Lokal Naik Kelas, PWB Bekali Anggota Teknik Pengelolaan Website Berita

Tidak ada sekat jabatan, tidak pula jarak antara tokoh dan masyarakat. Semua duduk sama rendah, berbagi tawa dalam irama permainan yang akrab.

Di sela-sela permainan, cerita-cerita lama mengalir begitu saja. Bagi Om Hepy, domino bukan sekadar hiburan pengisi waktu.

Ia adalah pintu menuju masa lalu masa ketika kebersamaan menjadi hal paling sederhana sekaligus paling berharga.

“Permainan ini membangkitkan kerinduan pada keluarga, pada teman-teman, pada kehidupan yang pernah saya jalani dulu,” tuturnya, pelan namun sarat makna.

Setiap kartu yang dibuka seakan membawa serpihan memori yang tak pernah benar-benar hilang.

Baca Juga:  Putusan Inkrah Ditantang Warga, Wibawa Hukum di Tanjung Sari Diuji: Polresta Banggai Tak Boleh Pikir Dua Kali

Dari desa hingga kota, dari generasi ke generasi, domino telah menjadi bahasa universal kebersamaan di tengah masyarakat Kabupaten Banggai.

Ia hidup di beranda rumah, di pos ronda, hingga di warung kopi seperti malam itu menyatukan orang-orang dalam kehangatan yang sulit tergantikan.

Sementara itu, Om Bali Mang tampak tak henti menyapa para peserta.

Dengan senyum yang hangat, ia berbaur tanpa jarak, menegaskan bahwa kedekatan dengan masyarakat bukan sekadar simbol, melainkan sikap yang nyata.

Momentum semakin terasa ketika Om Hepy membuka secara resmi putaran permainan domino.

Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa di balik permainan, ada nilai yang lebih dalam untuk dijaga bersama.

Baca Juga:  Hangatnya Markas PWB: Dari Onyop Bareng hingga Pencerahan Jurnalistik Bersama Mas Yo

“Jaga ikatan persaudaraan kita semua sebagai sesama pecinta domino, dan tetap junjung tinggi sportivitas,” ujarnya tegas, disambut anggukan para peserta.

Di bawah cahaya lampu warkop yang sederhana, ratusan pasang mata memancarkan semangat yang sama.

Malam itu, domino menjelma lebih dari sekadar permainan. Ia menjadi simbol bahwa di tengah kesibukan, perbedaan, dan perjalanan hidup yang kian menjauh, selalu ada jalan untuk kembali pada akar, pada kenangan, dan pada sesama. *

Editor Sofyan Labolo

-->