LUWUK TIMES, Luwuk – Dinamika kasus Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputra di Kecamatan Luwuk semakin misterius. Setelah sempat bikin geger lantaran terpasang spanduk bertuliskan “Tanah dan Bangunan Ini Akan Dijual Bumi Putra” lengkap dengan gertakan “Tolong Dikosongkan..!!”, kini spanduk tersebut mendadak lenyap tanpa jejak, Jumat (31/07/2026).
Sehari sebelumnya, spanduk berlatar putih itu menjadi tontonan gratis sekaligus bahan gunjingan warga dan pengendara yang melintas.
Namun, dalam hitungan jam, tanda-tanda “penjualan” aset tersebut tak lagi kelihatan. Belum jelas siapa yang mencopotnya. Apakah oknum warga yang geram, atau justru internal Bumiputra sendiri yang panik karena disorot publik.
Sejak diberitakan media ini, kabar tersebut langsung membakar jagat media sosial.
Kolom komentar dibanjiri luapan emosi, jeritan hati, hingga sumpah serapah dari para nasabah yang merasa uangnya “ditelan bumi”.
Janji-janji manis agen asuransi di masa lalu kini berubah jadi trauma mendalam bagi warga Luwuk dan sekitarnya.
Beberapa nasabah tampak meluapkan keputusasaan mereka karena merasa dipermainkan tanpa kepastian:
“Saya punya belum dibayarkan, sudah lama sekali. Ikut asuransi pendidikan, sampai anak sudah mau kuliah uang belum cair,” keluh seorang nasabah di kolom komentar.
“Serta torang pigi cari depe kantor so tapindah-pindah.. Mo ambe hak, sampe sekarang tidak ada. Padahal ba STOR tiap bulan… Saya so ikhlaskan, serahkan jo pa Tuhan,” tulis netizen lain dengan nada pasrah.
Yang paling menyayat hati, ada nasabah yang menanti haknya hingga ajal menjemput:
“Saya pe mama pe uang di sini dari zaman dia masih sehat dan kuat sampe so meninggal te ada kejelasan.”
Gaya kucing-kucingan dan hilangnya kejelasan dari pihak Bumiputra membuat kepercayaan masyarakat berada di titik nadir.
Tak sedikit netizen yang menilai aksi cuci tangan ini sebagai sinyal buruk, bahkan menyuarakan kecurigaan bahwa pihak pengelola berupaya lepas tanggung jawab atas nasib uang ribuan nasabah yang telah bertahun-tahun disetor.
Hingga berita ini diturunkan, ke mana perginya pihak yang bertanggung jawab atas keringat para nasabah ini masih menjadi tanda tanya besar. Satu hal yang pasti: janji tinggal janji, nasabah Luwuk kini tinggal gigit jari. *
Sofyan Labolo
