Kepemimpinan Adaptif di Tengah Dinamika Politik: Membaca PAN Banggai di Bawah Haji Akmal Ilyas

oleh -305 Dilihat
oleh
H. Akmal Ilyas

Pendekatan Team of Rivals itu sempat dipandang kontroversial, tetapi kemudian dianggap sebagai salah satu model kepemimpinan paling visioner dalam sejarah modern.

Nelson Mandela juga melakukan hal serupa ketika membangun pemerintahan pasca-apartheid.

Mandela memahami bahwa organisasi dan negara tidak bisa dibangun hanya dengan kelompok yang memiliki sejarah perjuangan sama, melainkan harus mampu mengakomodasi kekuatan baru demi stabilitas jangka panjang.

Di Indonesia, pola seperti itu bahkan semakin umum. Joko Widodo dikenal berulang kali merekrut profesional non-partai maupun tokoh dari luar lingkar politik inti untuk menduduki posisi strategis pemerintahan.

Hal serupa juga dilakukan Prabowo Subianto yang membangun pendekatan politik lebih inklusif dengan merangkul berbagai kelompok dan figur eksternal.

Karena itu, jika H. Akmal Ilyas mencoba menghadirkan pola kepemimpinan yang lebih terbuka dan dinamis di PAN Banggai, sesungguhnya langkah tersebut justru sejalan dengan arah perkembangan politik modern.

Baca Juga:  Tompotika dan Dinamika Masyarakat Adat Lobo, Loinang, dan Lo'on di Timur Sulawesi

Apalagi politik hari ini telah berubah drastis. Partai tidak lagi cukup hanya menjadi rumah kader lama, tetapi juga harus mampu menjadi ruang yang menarik bagi generasi baru, tokoh profesional, aktivis sosial, komunitas muda, dan kelompok masyarakat yang lebih luas.

Dalam teori transformational leadership, seorang pemimpin justru dinilai berhasil ketika mampu membawa organisasi keluar dari zona nyaman menuju orientasi yang lebih progresif.

Pemimpin transformasional biasanya memang menghadapi resistensi di awal, karena perubahan hampir selalu menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pihak.

Namun sejarah menunjukkan, organisasi yang bertahan lama bukanlah organisasi yang paling kaku menjaga tradisi, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Karena itu, dinamika yang terjadi di PAN Banggai seharusnya tidak dibaca secara hitam-putih. Pengunduran diri sejumlah kader adalah hak politik yang harus dihormati.

Tetapi pada saat yang sama, langkah pembaruan organisasi yang dilakukan H. Akmal Ilyas juga layak dipahami sebagai bagian dari strategi membangun PAN Banggai agar tetap relevan di tengah perubahan politik yang semakin cepat.

Baca Juga:  Puluhan Pengurus PAN Banggai Kompak Mundur, Bongkar Dugaan Pelanggaran AD/ART hingga Kepemimpinan Otoriter

Politik bukan sekadar soal mempertahankan romantisme perjuangan lama, tetapi juga tentang bagaimana organisasi mampu tetap hidup, berkembang, dan memenangkan kepercayaan publik di masa depan. *