Di Era Digital, Keluarga Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Tetapi Tempat Bertumbuh

oleh -88 Dilihat
oleh

Oleh: Dr. Karmila P. Lamadang, SH., M.Pd

TANGGAL 29 Juni ditetapkan sebagai hari keluarga Nasional hal ini temaktub dalam Keppres No. 22 Tahun 2008 yang di canangkan oleh Presiden SBY.


TANGGAL 29 Juni dipilih karena bertepatan dengan hari lahirnya program KB Nasional, 29 Juni 1970.

Hari keluarga Nasional bukan hanya sekedar menjadi ceremoni tetapi sebagai pengingat bahwa ada tanggungjawab yang lebih mulia dan lebih penting dibandingkan dengan aktivitas pekerjaan.

Kemajuan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara kita bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan membangun relasi sosial kini banyak dimediasi oleh teknologi.

Gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Di tengah berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak boleh diabaikan, yaitu berkurangnya kualitas interaksi di dalam keluarga.

Ironisnya, semakin mudah seseorang terhubung dengan dunia luar, semakin besar pula risiko terputusnya kedekatan dengan orang-orang terdekat di rumah.

Tidak sedikit keluarga yang tinggal di bawah satu atap, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar gawainya. Percakapan yang hangat mulai tergantikan oleh pesan singkat, sementara kebersamaan sering kali kalah oleh kesibukan di dunia digital.

Dalam kondisi seperti inilah makna keluarga perlu ditegaskan kembali. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat bertumbuh.

Rumah bukan hanya bangunan fisik yang melindungi dari panas dan hujan, tetapi ruang pertama tempat karakter, nilai, keimanan, dan kemanusiaan dibentuk.

Islam menempatkan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban. Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan material, tetapi juga membimbing anggota keluarga agar tumbuh dalam keimanan, akhlak, dan tanggung jawab. Orang tua memikul amanah besar sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Hal tersebut dipertegas pula dalam hadis Rasulullah saw.:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukan sekadar memberi nafkah, tetapi juga menghadirkan keteladanan, kasih sayang, dan pendidikan yang berkelanjutan.

Di era digital, tantangan orang tua semakin kompleks. Anak-anak memperoleh informasi tanpa batas melalui internet.

Mereka mengenal dunia sejak usia dini melalui layar, bahkan sering kali lebih akrab dengan media digital daripada percakapan bersama keluarga.

Jika orang tua tidak hadir sebagai pendamping, maka ruang pendidikan keluarga dapat dengan mudah diisi oleh pengaruh luar yang belum tentu selaras dengan nilai agama dan budaya.

Karena itu, keluarga perlu membangun budaya digital yang sehat. Pendampingan penggunaan teknologi tidak cukup dilakukan melalui pembatasan waktu layar, tetapi juga melalui dialog, keteladanan, dan literasi digital.

Anak-anak perlu diajarkan untuk berpikir kritis terhadap informasi, menggunakan media sosial secara bijaksana, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya.

Lebih dari itu, keluarga perlu menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan sederhana yang mempererat hubungan antaranggotanya.

Makan bersama tanpa gawai, berdiskusi tentang aktivitas sehari-hari, melaksanakan ibadah berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, atau sekadar meluangkan waktu untuk saling mendengarkan merupakan investasi yang sangat berharga dalam membangun ketahanan keluarga.

Ketahanan keluarga menjadi isu yang semakin penting pada masa kini. Banyak persoalan sosial, seperti krisis karakter, perundungan, penyalahgunaan media sosial, hingga menurunnya kepedulian sosial, berakar dari lemahnya fungsi pendidikan dalam keluarga.

Sebaliknya, keluarga yang harmonis, komunikatif, dan religius akan melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh menghadapi perubahan zaman.

Hari Keluarga Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dimulai dari kebijakan negara, tetapi juga dari ruang-ruang kecil yang bernama keluarga.

Keluarga yang sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi akan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang berkarakter, cerdas, dan berdaya saing.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi berkembang, tidak ada algoritma yang mampu menggantikan kasih sayang orang tua, tidak ada kecerdasan buatan yang dapat menggantikan keteladanan keluarga, dan tidak ada media sosial yang mampu menghadirkan kehangatan pelukan seorang ibu maupun nasihat penuh hikmah dari seorang ayah.

Di era digital, rumah hendaknya tidak hanya menjadi tempat singgah setelah lelah beraktivitas. Rumah harus menjadi tempat setiap anggota keluarga belajar, dicintai, didengar, dihargai, dan bertumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Sebab, masa depan bangsa sesungguhnya dibangun dari keluarga yang mampu menjadikan rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat terbaik untuk bertumbuh.

SELAMAT HARI KELUARGA NASIONAL SEMOGA SEMUA KELUARGA INDONESIA MENJADI KELUARGA YANG BAHAGIA DAN BERTUMBUH. *

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Luwuk