Ketika Allah Mengangkat Derajat Orang Berilmu, Kita Justru Mengangkat Derajat Orang Kaya

oleh -864 Dilihat
oleh

Oleh: Supriadi Lawani


ADA satu ironi besar yang nyaris tak lagi kita sadari karena terlalu sering kita hidupi: Allah dengan tegas menyatakan bahwa Dia mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu, tetapi kita—umat yang mengaku beriman—justru berlutut di hadapan orang-orang berharta.

Al-Qur’an tidak pernah ambigu soal ini. Derajat, dalam pandangan Tuhan, bukan ditentukan oleh saldo rekening, luas tanah, atau mobil yang diparkir di halaman.

Derajat ditentukan oleh iman dan ilmu. Titik. Tidak ada embel-embel “asal kaya”, tidak ada catatan kaki “asal dermawan sedikit”.

Namun mari jujur: di dunia nyata, khususnya di negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini, ayat itu seperti tidak berlaku. Ia dibaca, dilantunkan, bahkan dikhotbahkan—tetapi tidak dipakai sebagai ukuran hidup.

Tak mengherankan jika berbagai laporan internasional menempatkan rata-rata IQ orang Indonesia di posisi terbawah atau nyaris terbawah di kawasan ASEAN.

Baca Juga:  Dugaan Pemerasan Jaksa dan Ketakutan Pejabat: Simbiosis Korupsi yang Terlupakan

Ini bukan soal angka semata, tapi cermin dari pilihan nilai yang kita rawat bertahun-tahun. Bangsa yang tidak menghormati ilmu, cepat atau lambat, akan menuai kebodohan struktural.

Kita memuji orang kaya. Kita merendahkan orang berilmu yang miskin. Kita berlomba mendekat ke yang punya uang, berharap cipratan.

Kita menunduk pada pemilik modal, bukan pada pemilik pengetahuan. Kita memuja harta seolah-olah ia sumber kemuliaan, padahal Allah sama sekali tidak pernah menjanjikan itu.

Lebih parah lagi, dalam urusan memilih pemimpin—dari ketua RT sampai kepala daerah, dari organisasi kecil sampai jabatan publik—yang dipertimbangkan sering kali bukan siapa yang paling paham, paling adil, paling jujur.

Akan tetapi siapa yang paling kaya, paling sanggup membiayai, paling kuat modalnya. Ilmu kalah oleh amplop. Integritas dikalahkan oleh logistik.

Baca Juga:  Ulil Amri dalam Perspektif Sayyid Qutb dan Krisis Legitimasi Kekuasaan

Lalu kita masih berani mengaku sebagai masyarakat religius?

Ini bukan sekadar soal kemiskinan struktural atau ketimpangan ekonomi. Ini soal rusaknya orientasi nilai.

Kita telah mengganti standar langit dengan standar pasar. Kita tidak lagi bertanya “apa yang Allah nilai?”, tapi “apa yang menguntungkan?”

Ironinya, ketika orang berilmu bicara tentang keadilan, kita bilang mereka idealis.

Ketika orang kaya bicara kosong tapi menyumbang sedikit, kita sebut mereka dermawan dan pemimpin.

Di titik ini, ilmu bukan lagi cahaya—ia menjadi gangguan. Yang diinginkan bukan kebenaran, tapi kenyamanan.

Maka jangan heran jika kebijakan publik sering bodoh tapi mahal, pemimpin banyak tapi miskin gagasan, dan umat berisik soal moral tapi lumpuh dalam akal sehat.

Kita memanen apa yang kita tanam: ketika ilmu tidak dimuliakan, kebodohan akan memerintah.

Baca Juga:  Terjerat Rentenir

Dan jangan salah: firman Allah tidak pernah kehilangan daya. Yang kehilangan arah adalah kita.

Ayat itu tetap berdiri, tegas dan sunyi, sementara kita berjalan menjauh darinya sambil mengaku taat.

Mungkin problem terbesar umat hari ini bukan kurangnya masjid, bukan kurangnya khotbah, tapi keberanian untuk konsisten pada nilai Tuhan ketika nilai itu bertabrakan dengan kepentingan dunia.

Allah mengangkat derajat orang berilmu. Kita justru mengangkat orang berharta.

Di situlah pengkhianatan itu terjadi bukan pada teks suci, tapi pada cara hidup kita sendiri.

Akhirnya kita harus bertanya “Sejak kapan kita berhenti memuliakan ilmu, tapi masih berani mengaku taat pada Allah, pada Tuhan?” *

Penulis adalah petani pisang yang kadang jadi advokat

No More Posts Available.

No more pages to load.